MENEMANI ANAK : BELAJAR DARI DOKTER AN LIONG




(Mohon maaf, video di atas mungkin hanya bisa dilihat memakai Personal Computer / Laptop / Notebook. Video di atas juga bisa dilihat memakai Smartphone / Gadget tertentu asalkan software dan memorinya mencukupi)

Lagu di atas diciptakan (syair dan liriknya) dan diaransemen sendiri oleh anak. Kita sebagai orang tua barangkali memang tidak bisa menemani anak bermain gitar (karena memang tidak bisa main gitar, misalnya), tetapi adalah baik kalau selalu menyempatkan diri menikmati permainan gitar anak dan selalu memberikan tepuk tangan ketika anak selesai memainkan sebuah lagu (apalagi lagu ciptaan anak sendiri). Anak akan merasa dihargai dan didukung oleh orang tuanya. 


Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Malam itu saya bertemu dengan Dokter An Liong, seorang dokter yang tinggal di Belgia dan praktek sebagai dokter di Belanda. Apa yang menarik dari Dokter An Liong hingga saya ingin menuliskannya dalam blog pendidikan ini ?

Dokter An Liong bukanlah orang yang gemar olah raga. Tetapi anaknya sangat gemar olah raga. Suatu ketika, Dokter An Liong bertanya kepada anaknya, "Kamu ingin dibelikan apa sebagai hadiah ulang tahunmu ?"

Anaknya menjawab, "Saya tidak ingin dibelikan apa-apa. Saya ingin punya kenangan lari marathon New York 42 K. Waktunya masih 8 bulan lagi."

Artinya, anaknya ingin Dokter An Liong menemaninya ikut lari marathon di New York sepanjang 42 kilometer !  

Maka, Dokter An Liong pun sejak saat itu rajin berlatih lari marathon. Waktunya masih 8 bulan lagi. Demi sang anak yang ingin punya kenangan lari marathon 42 kilometer bersama dengan ayahnya ! Bahkan, Dokter An Liong sampai menyewa pelatih dan dokter ahli olah raga untuk persiapannya ini.

*****

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Cerita nyata di atas sengaja saya sharingkan untuk menunjukkan bagaimana orang tua memberikan hadiah bukan sesuai kemauannya sendiri saja, tetapi juga dengan memperhatikan keinginan anak. Tentu saja, orang tua perlu melihat, apakah yang diinginkan anak adalah sesuatu yang baik atau tidak. Kalau yang diinginkan oleh anak bukanlah sesuatu yang baik / bermanfaat, tentu orang tua harus mengarahkan / meluruskan. 

Intinya adalah menemani anak, bukan sekedar memberikan materi / barang / uang semata.

Ketika anak saya masih duduk di kelas IV Sekolah Dasar (sekarang dia duduk di kelas VIII Sekolah Menengah Pertama), dia ingin bermain gitar. Karena kami tidak punya gitar, maka saya dan istri membelikan gitar untuk anak. Kami sengaja membeli dua gitar, untuk anak dan untuk saya. Padahal saya tidak bisa main gitar. Dan sejak saat itu, anak dan saya selalu main gitar bersama. Jujur saja, sebenarnya saya hanya sebatas menemani saja, karena saya memang tidak bisa dan (menurut saya) memang saya tidak berbakat. Meskipun saya hanya sebatas menemani saja dengan permainan yang pas-pasan, anak menjadi senang dan bersemangat. Saya juga mengenalkan anak dengan teman-teman saya yang pandai main gitar (anak saya tidak ingin les gitar, hanya ingin belajar secara otodidak saja). Saya juga selalu menyempatkan diri melihat video di www.youtube.com tentang Sung Ha Jung dan tentang Jubing Kristanto (keduanya pakar main gitar). Tentu  saja, seiring dengan berjalannya waktu, anak saya semakin mahir main gitar, sedangkan saya tetap saja...pas-pasan.... 

*****

Selamat menemani anak....

Bukan sekedar memberikan uang / materi saja...

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".

-----o0o-----

Foto, video, tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922.


MENEMANI ANAK - BELAJAR ILMU ALAM DI PANTAI SENJA



Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Meskipun biasanya pantai di kala senja digunakan untuk pasangan muda-mudi yang sedang memadu kasih alias berpacaran, tidak ada salahnya mengajak anak kita jalan-jalan di pantai ketika senja hari. Tentu saja, bukan untuk menonton muda-mudi yang sedang berpacaran, tetapi untuk menikmati temaram senja di pantai bersama anak sambil ngobrol santai tentang ilmu alam "yang sedang dilihat dengan pandangan mata secara langsung".






Sabtu sore itu, tanggal 9 Maret 2013, tiba-tiba saja saya dan istri merasa kangen dengan suasana pantai di kala senja. Memang, ini ada kaitannya dengan nostalgia ketika kami berdua masih usia 19-24 tahun, ketika kami berdua sebagai mahasiswa Perikanan Universitas Diponegoro biasa melakukan praktikum di Laboratorium Pengembangan Wilayah Pantai (LPWP) "Prof. Dr. Gatot Rahardjo Joenoes" di kawasan Pantai Kartini - Jepara.

Maka, saya dan istri mengajak Agatha anak kami untuk jalan-jalan di Pantai Marina - Semarang, yang letaknya relatif dekat rumah kami (hanya 15 menit dengan kendaraan bermotor).



Jalan-jalan di Pantai Marina ketika pagi hari memang sudah sering kami lakukan bersama. Tetapi jalan-jalan di pantai ketika senja hari memang belum pernah. Dan....anak merasa senang sekali melihat pantai di senja hari karena "berbeda dengan pantai di pagi hari".



Sambil berfoto-foto ria, anak dapat melihat kenyataan alam bahwa air laut mengalami "pasang naik" ketika senja hari. Dari istilah "pasang naik" ini pun, anak sudah bisa kita ajak ngobrol ilmiah tentang pelajaran Bahasa Indonesia, bahwa istilah yang baku sebenarnya adalah "pasang naik" ketika permukaan air laut sedang meninggi di pantai, dan "pasang surut" ketika permukaan air laut sedang menjadi rendah di pantai. Akan tetapi, dalam istilah sehari-hari, istilah "pasang naik" biasa disebut sebagai "pasang" saja, sedangkan istilah "pasang surut" biasa disebut sebagai "surut" saja.


Dengan berdiri di tepi pantai (kebetulan pantainya sudah merupakan pantai buatan), maka anak dengan ditemani istri juga bisa "merasakan" bahwa "gelombang air laut" itu adalah salah satu bentuk "energi" ketika debur ombak membasahi kaki. Jadi, ketika kaki sedang terkena ombak, maka sambil tertawa-tawa gembira, jangan lupa untuk tetap me-ngobrol-kan hal-hal yang ilmiah....


Karena anak sudah sering diajak jalan-jalan di Pantai Marina ketika pagi hari, maka pada saat anak diajak jalan-jalan di pantai yang sama ketika senja hari, anak memang dapat melihat perbedaan kondisi pantai ketika sedang "pasang naik" di senja hari (dengan gelombang yang relatif besar) dan ketika sedang "pasang surut" di pagi hari (dengan gelombang yang relatif kecil).

 Di sini, anak sebenarnya sedang mengalami / menjalani sendiri apa yang disebut dengan metode ilmiah yaitu melakukan pengamatan dengan melihat (meskipun tidak terlalu sistematis) gejala-gejala / perubahan apa yang terjadi....pada saat pagi seperti apa...pada saat sore seperti apa...pada saat "pasang naik" seperti apa...pada saat "pasang surut" seperti apa.... Anak diajak untuk memiliki pengalaman untuk melakukan pengamatan guna mengetahui perbedaan alam dan memikirkan mengapa hal itu terjadi.


Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Bahkan warna langit temaram senja yang berwarna lembayung pun dapat pula dijadikan bahan obrolan ilmiah sambil menikmati syahdunya pantai. Anak bisa diajak ngobrol tentang teori warna yang me-ji-ku-hi-bi-ni-u (merah - jingga - kuning - hijau - biru - nila - ungu). Kalau kebetulan sudah pernah menonton film dengan judul "Habibie & Ainun" (sempat ditulis di blog ini juga), maka anak bisa diingatkan bahwa perubahan warna langit itu dikarenakan panjang gelombang warna yang tidak sama antara warna yang satu dengan warna yang lainnya.


Selamat menemani anak....

Selamat menemani anak dengan jalan-jalan secara murah meriah dan tetap ilmiah....

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".


-----10 Maret 2013-----

Foto-foto oleh Bernardine Agatha Adi Konstantia (siswi kelas VIII-F SMP Pangudi Luhur Domenico Savio - Semarang) dan Constantinus Johanna Joseph.

Tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph, sarjana di bidang ilmu alam dan sarjana di bidang ilmu sosial. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922.

MENEMANI ANAK : MAKAN YANG BIASA-BIASA SAJA....


Makan soto ayam di emperan GOR Tri Lomba Juang - Semarang juga menyenangkan.....

**********

-->
Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Di beberapa perusahaan di mana saya memberikan jasa profesional sebagai "Praktisi Human Resources", saya selalu berpesan kepada para karyawan yang akan mendapatkan promosi jabatan, baik dari level staf menjadi supervisor, dari level supervisor menjadi manajer, maupun dari level manajer menjadi direktur (sebenarnya, menurut Undang-Undang Perseroan Terbatas yang berlaku saat ini, direktur itu bukan karyawan, tetapi pengelola perusahaan), supaya menjaga diri untuk tidak terlena "hidup mewah" ketika sudah mendapatkan jabatan baru, sebab memang sudah banyak bukti / korban di mana "karyawan yang dulunya sederhana dan jujur, ketika mendapat jabatan lebih tinggi justru terpeleset karena uang / hidup mewah sehingga akhirnya dikeluarkan dari perusahaan / karirnya hancur".

**********

Lalu, apa kaitannya dengan blog pendidikan anak Holiparent ini ?

Perilaku orang dewasa menurut para ahli psikologi memang ditentukan oleh faktor genetis / keturunan dan faktor proses belajar sosial / belajar dari pengalaman sehari-hari. Saya tidak mengatakan bahwa "karyawan yang ketika mendapat jabatan lebih tinggi akhirnya menyalahgunakan keuangan / wewenangnya" disebabkan oleh pendidikan yang salah di masa kecilnya. Tidak. Sebab proses belajar sosial itu terus berlanjut sampai ketika dia dewasa. Tetapi yang saya maksudkan adalah ini : bahwa pendidikan di masa kecil (termasuk proses belajar sosial dari pengalaman-pengalaman yang dialami sehari-hari) merupakan fondasi yang berpengaruh dalam proses belajar sosial di usia-usia selanjutnya.

Kalau ketika masih kecil anak dibiarkan untuk selalu hidup bermewah-mewah, misalnya makan harus selalu di restoran yang mahal-mahal, maka pengalaman ini akan tertanam di dalam diri anak, dan dimungkinkan makin berkembang ketika anak bertambah usianya.

Saya ada satu contoh nyata yang baru-baru ini saya tangani. Seorang karyawan (dari berbagai sumber yang saya telusuri) sudah terbiasa hidup mewah karena ayahnya masih bekerja dan memiliki jabatan yang tinggi. Dia (sebut saja Jaka, bukan nama sebenarnya) terbiasa menggunakan mobil-mobil ayahnya secara gonta-ganti untuk mengunjungi pacarnya (sebut saja Bunga, bukan nama sebenarnya).
Jaka dan Bunga akhirnya menikah. Selama ayah Jaka masih bekerja / punya jabatan, keluarga mereka didukung secara keuangan oleh ayah Jaka. Tetapi kemudian ayah Jaka sakit, meninggal dunia, dan keuangan keluarga ayah Jaka merosot tajam. Otomatis, keuangan keluarga Jaka dan Bunga juga menjadi sulit, karena sebenarnya Jaka dan Bunga masing-masing hanya bekerja sebagai staf biasa. Tetapi gaya hidup mewahnya tidak bisa hilang. Mereka mulai berhutang ke banyak pihak. Bahkan ketika Jaka mendapatkan promosi jabatan (karena waktu itu kerjanya cukup baik) dan penghasilannya meningkat, aktivita berhutang itu justru semakin meningkat juga, bahkan Jaka juga berhutang kepada anak buahnya.

Singkat cerita, wibawa Jaka jatuh di mata anak buahnya, kepemimpinannya tidak efektif, dan kinerjanya dinilai jelek oleh manajemen perusahaan. Jaka akhirnya dicopot dari jabatannya....

**********

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Tentu saja, kita boleh-boleh saja mengajak anak kita untuk makan di restoran mahal, menginap di hotel bagus, dan sebagainya. Yang harus kita perhatikan adalah ini : bahwa kita jangan lupa juga memberikan pengalaman kepada anak kita untuk makan di soto pinggir jalan / di trotoir, belanja di pasar tradisional (tidak selalu ke mall), naik angkot (tidak selalu naik mobil pribadi ber-AC), dan sebagainya. Dengan demikian anak memiliki pengalaman bahwa "hidup itu tidak harus mewah, tidak harus mahal, karena yang biasa-biasa saja, yang murah meriah, juga ada dan bisa dinikmati". Anak dengan demikian tidak akan canggung untuk hidup "biasa-biasa saja", dan tidak memaksakan diri untuk hidup bermewah-mewah (kalau memang tidak mampu).

**********

Selamat menemani anak...

Selamat memberikan pengalaman kepada anak bahwa "yang biasa-biasa saja itu juga bisa dinikmati"...

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".

**********03 Maret 2013**********

Foto dan tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922.
Melayani pertanyaan lewat e-mail : constantinus99@gmail.com.