MENEMANI ANAK : "HIDUP ADALAH PERJUANGAN"

Nenek ini adalah tenaga kebersihan di salah satu tempat doa di kawasan Ambarawa. Meskipun sudah berusia lanjut, beliau tetap dengan tekun dan disiplin menjalankan pekerjaannya. Kata-kata "hidup adalah perjuangan" bukan berarti bahwa hidup itu berat, tetapi bahwa hidup itu harus dijalani dengan keikhlasan dan kesungguhan hati. Dan, orang tua perlu menemani anak supaya anak dapat MERESAPKAN makna ini : bahwa hidup bukan hanya sekedar enak saja.

Malam ini, ketika tulisan untuk blog Holiparent ini saya buat, saya dan anak saya semata wayang sedang duduk berdua di dalam mobil menunggu istri saya yang sedang lembur akhir bulan di kantor tempatnya bekerja. Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Sudah menjadi tradisi bahwa karyawan bank seperti istri saya pasti lembur sampai malam karena "akhir bulan". Dan ini dijalaninya sejak 17 tahun yang lalu (sejak tahun 1996).

**********

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Pada kesempatan kali ini saya bermaksud men-sharing-kan hal ini : bahwa anak (apabila dipandang sudah cukup umur, seperti anak saya yang saat ini sudah duduk di kelas VIII atau kelas II SMP) ada baiknya diajak untuk MERASAKAN bahwa HIDUP ITU ADALAH PERJUANGAN. Bahwa orang tua harus bekerja sampai malam untuk mendapatkan penghasilan. Bahwa untuk itu diperlukan doa, kegigihan / kemauan, dan juga fisik / tubuh yang mendukung.

**********

ANAK BELAJAR DARI PROSES BELAJAR SOSIAL. Begitulah para ahli psikologi mengatakan. Artinya, anak akan meniru apa yang dilihatnya. Pendapat ini dalam pengalaman saya terbukti benar.

Saya tidak pernah menyuruh anak saya untuk belajar atau mengerjakan tugas-tugas sekolahnya hingga larut malam bahkan hingga dini hari. Bahkan anak saya seringkali minta saya antar untuk memfoto kopi dan menjilid tugas-tugas pada pujul 02.00 atau 03.00 dini hari. Tentu saja, sebagai orang tua saya MENEMANI / MENGANTARNYA.

Tentu saja, kalau tugas-tugas sekolah bisa diselesaikan tanpa lembur, pasti lebih bagus, karena tubuh juga perlu istirahat malam. Akan tetapi yang mau saya sampaikan adalah ini : kalau tugas-tugas menumpuk, maka orang tua sebaiknya memberikan contoh ataupun menemani anak UNTUK TIDAK MENYERAH dalam menyelesaikan tugas-tugas itu. Orang tua dapat menjadi contoh untuk tetap gigih mengerjakan tugas hingga tuntas.
(Anak saya memang mencontoh tanpa disuruh : saya terbiasa lembur hingga larut malam bahkan dinihari ketika mengerjakan tugas-tugas kuliah maupun pekerjaan. HIDUP ADALAH PERJUANGAN DALAM DOA DAN USAHA, demikian saya katakan kepada anak saya).

**********

Selamat menemani anak....

Selamat memberikan contoh dan menemani anak....bahwa orang harus gigih dalam menyelesaikan tugas hingga tuntas....

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".

**********28/02/2013**********

Tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi, anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922.

MENEMANI ANAK BERKARYA NYATA


Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
"Karya nyata" yang saya maksud dalam tulisan ini adalah sederhana saja : Majalah Sekolah. Mengapa saya sebut "karya nyata" ? Karena secara "nyata" menghasilkan "karya" yang merupakan "gabungan" dari berbagai "teori / konsep" yang telah dipelajari anak bersama teman-temannya : (1) menulis artikel, (2) melakukan wawancara dan menuliskannya, (3) memotret dan mengedit potret, (4) membuat / menyusun tata letak isi / rubrik, (5) mencari sponsor dan memikirkan biaya produksi serta cara distribusi / menjualnya, (6) mengkoordinir teman-teman / membagi tugas masing-masing personil, (7) membuat dan melaksanakan jadwal kerja, (8) mendisain dan mencetak sampul termasuk disain-disain iklan, (9) bekerja dengan komputer pribadi, (10) bekerja sama / mencari percetakan untuk sampul majalah (berwarna, kertas ivory) maupun fotokopi (untuk isi) sekaligus penjilidannya.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Anak tentu membutuhkan BIMBINGAN untuk itu semua, tetapi itu bukan berarti bahwa orang tua MEMBUATKAN anak. Kalau orang tua MEMBUATKAN untuk anak, maka anak TIDAK AKAN BELAJAR tentang itu semua secara maksimal. Jadi, yang penting bukanlah majalah yang dihasilkan adalah bagus sekali atau tidak, tetapi apakah anak belajar secara maksimal untuk menghasilkan karya nyata itu.

--------------------

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Di bulan Februari 2013 ini anak saya bersama teman-temannya dari Ekstra Kurikuler Jurnalistik mendapat tugas dari guru pembimbing ekstra kurikuler jurnalistik untuk membuat "majalah ekstra kurikuler jurnalistik". Mereka mengerjakan tugas ini dengan penuh semangat, karena di sekolah anak saya selama ini baru ada "majalah sekolah", dan belum ada "majalah ekstra kurikuler jurnalistik". Memang, tulisan anak saya juga sering dimuat di "majalah sekolah"-nya, tetapi mampu menerbitkan sendiri "majalah ekstra kurikuler" tentu saja sangat membanggakan bagi dia dan teman-temannya. Mereka juga bisa belajar tentang 10 hal yang saya sebutkan di awal tulisan ini secara nyata dan menghasilkan "karya nyata". ANAK JADI PUNYA PENGALAMAN MENG-EKSEKUSI APA YANG TELAH DI-KONSEP-NYA, BERDASARKAN SEMUA ILMU YANG TELAH DIPELAJARINYA.

--------------------

Selamat menemani anak....

Selamat mendukung anak (bukan membuatkan), sehingga anak punya PENGALAMAN menghasilkan karya nyata....

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

----------24/02/2013----------

Tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph, Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922.

Tulisan ini dibuat sebagai penghargaan atas terbitnya "Majalah Jurnalistik untuk Kita Semua : FRESH!" di SMP Pangudi Luhur Domenico Savio Semarang, yang terbit perdana di bulan Februari 2013 (oleh kelompok ekstra kurikuler kelas VIII, dengan Pemimpin Redaksi Bernardine Agatha Adi Konstantia, dan didukung oleh semua teman-teman, guru-guru, dan para orang tua yang setia menemani.....).

MENEMANI ANAK...NOSTALGIA MASA KECIL....


Agatha ketika usia 8 bulan dengan Mamah-nya (Mamahnya saat itu usia 30 tahun). Foto dibuat tahun 2000.



Sidik kaki bayi yang ada dalam Buku Bayi Agatha (tahun 1999)



Agatha di kelas VIII-F SMP PL Domenico Savio (usia 13 tahun).  Foto dibuat tahun 2012.


Mamah-nya Agatha usia 41 tahun. Foto dibuat tahun 2011.

----------

Beberapa orang tua berdiskusi dengan saya tentang anaknya yang sudah beranjak dewasa.

"Tidak seperti ketika masih kecil dulu, sekarang anak saya mulai tidak mau saya ajak jalan-jalan atau nonton bioskop bersama orang tuanya," begitulah keluhan dari para orang tua ini.

Intinya adalah bahwa anaknya sekarang ini sudah mulai punya "dunia sendiri", sehingga kurang tertarik dengan acara / kegiatan / "dunia" orang tuanya.

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya hal ini juga kita lakukan kepada orang tua kita dulu, pada saat kita beranjak dewasa. Jadi, memang tidak ada yang aneh atau mengherankan. Bedanya adalah, di zaman kita remaja dulu (tahun 1980-an misalnya) tingkat kesibukan orang tua maupun anak tidak setinggi sekarang ini. Sekarang ini, dengan berbagai fasilitas komputer dan smartphone / handphone dan sebagainya, anak bisa "sungguh-sungguh sibuk" dan "sungguh-sungguh asyik" dengan barang-barang canggih tersebut, sehingga "lupa / tidak asyik lagi" kalau ngobrol atau bercanda dengan orang tuanya.

--------------------

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Hal-hal tersebut di atas adalah KENYATAAN yang oleh kita (para orang tua) harus hadapi sekarang ini. Anak tidak salah. Komputer / tablet / notebook tidak salah. Smartphone / handphone tidak salah. Karena "zamannya" memang seperti ini. TINGGAL BAGAIMANA KITA SEBAGAI ORANG TUA MENYIKAPINYA sehingga tetap ada "keasyikan yang sama" yang dapat membuat anak dan orang tua dapat ngobrol di rumah saat santai, di sela-sela kesibukan / "keasyikan" masing-masing.

--------------------

Saya selalu saja membawa foto anak saya ketika masih usia 8 bulan. Dia sedang digendong ibunya (istri saya). Wajahnya lucu. Matanya bundar. Sangat berbeda dengan anak saya sekarang (tahun 2013) yang berusia 14 tahun.

Foto itu saya simpan di dalam dompet. Sore hari, di rumah, saya sengaja mengajak anak ngobrol tentang foto yang saya keluarkan dari dompet saya ini. Kami memandangi foto itu bersama-sama, lalu tertawa bersama.  Gembira melihat betapa lucunya dia ketika itu. Matanya hitam bulat seperti mata boneka.

Atau, saya juga biasa menunjukkan kepada anak "buku bayi" ketika dia lahir di rumah sakit pada usia 8 bulan di kandungan Mamahnya (lahir prematur) dengan berat badan hanya 2,1 kg. Ada "cap telapak kaki" bayi anak saya di buku itu. Saya dan anak saya selalu saja tertawa bersama, menyadari betapa kecilnya dia pada saat dilahirkan. Begitu kecilnya, sampai-sampai kalau menimangnya harus dilakukan dengan alas berupa bantal tidur (artinya, anak saya ketika bayi demikian kecil mungil, sampai-sampai bantal tidur pun "terlihat besar" dan bisa djjadikan alas).

Ketika anak saya umur 2 tahun, saya dan dia juga membuat "jiplakan tangan" kami bersama. Caranya, jari-jari dan telapak tangan kiri ditaruh di atas kertas, lalu "dijiplak" dengan spidol. Ketika tangan di angkat dari kertas, maka pada kertas itu tampak gambar ukuran sebenarnya dari telapak tangan dan jari-jari tangan anak saya. 

Gambar seperti ini pun membuat kami tertawa bersama, menyadari betapa kecilnya tangan dia ketika itu.

Tentu saja, masih ada koleksi barang-barang lain yang dapat dipakai sebagai sarana ngobrol dengan anak, dengan menggunakan "barang-barang nostalgia". Misalnya, kertas kerja saya yang tanpa saya duga (waktu itu) dicoret-coret dengan spidol warna-warni oleh anak saya. Bukannya marah, saat itu justru kertas itu saya simpan dan saya laminating supaya tidak rusak. Sekarang, setiap kali saya menunjukkan kertas itu, anak saya tertawa melihat "hasil karyanya" ketika itu.

----------

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Selamat menemani anak....

Selamat bernostalgia dengan foto-foto atau barang-barang lama sambil bercerita dan tertawa gembira bersama anak....

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".

-----23/02/2013-----

Tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph.
Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922.