KONSTRUKSI yang KUAT dan yang TIDAK KUAT



Bangku kayu yang bisa "bergoyang ke kiri dan ke kanan" pada saat diduduki karena 
konstruksinya tidak kokoh (foto di atas)

Agatha (anak saya semata wayang) dan saya pagi itu sedang sarapan "nasi ayam" dalam perjalanan kami bersepeda keliling kompleks perumahan (dan pertokoan) di dekat rumah. Sambil duduk menunggu makanan yang kami pesan, kami berdua merasa ada yang aneh dengan tempat duduk (bangku kayu) yang kami duduki : bisa bergoyang ke kiri dan ke kanan, meskipun "masih cukup aman / kokoh" alias kecil kemungkinan untuk roboh / ambruk.


Konstruksi "sudut-sudut kaki" bangku kayu yang tidak kokoh karena tidak dipasang "kayu segitiga" 
(foto di atas)

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Saya lalu mengajak Agatha untuk mengamati (dan memotret) : bagaimana KONSTRUKSI penyambungan "sudut-sudut kaki" bangku kayu itu, sehingga bisa bergoyang kiri kanan.


Konstruksi "sudut-sudut kaki" meja kayu yang kokoh karena dipasang "kayu segitiga" 
dengan cara dipaku (foto di atas dan foto di bawah).



Ternyata benar ! Berbeda dengan KONSTRUKSI penyambungan "sudut-sudut kaki" meja kayu dibuat kokoh karena ada "tambahan kayu segitiga" yang dipaku pada "sudut-sudut kaki" meja kayu yang ada di situ, hal itu tidak dilakukan pada "sudut-sudut kaki" bangku kayu yang (kebetulan) sedang kami duduki. Entah mengapa demikian. Mungkin pembuat bangku kayu itu kehabisan "kayu segitiga" untuk dipasang di "sudut-sudut kaki" bangku kayu ini. Tetapi demi kokohnya bangku kayu ini pada saat diduduki oleh orang (dan supaya tidak mudah rusak), seharusnya "kayu segitiga" itu tetap di-ADA-an dan dipaku pada "sudut-sudut kaki" bangku kayu.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Seperti biasa, kejadian-kejadian sederhana seperti ini justru menjadi KEASYIKAN tersendiri, karena bisa menjadi bahan OBROLAN Agatha dengan saya. Juga, menjadi bahan TULISAN di blog inspirasi pendidikan kreatif Holiparent ini.

Apa sih yang bisa kita renungkan dari cerita "sudut kaki bangku kayu" yang tidak kokoh itu ?

1. Bahwa kita sebagai orang tua dapat menjadikan hal-hal SEDERHANA yang ada di sekitar kita sebagai BAHAN OBROLAN dengan anak kita.

2. Bahwa obrolan seperti ini bisa MENAMBAH WAWASAN anak berdasarkan PENGALAMAN PRAKTIS sehari-hari yang dikaitkan dengan TEORI-TEORI PELAJARAN yang didapatkan anak di sekolah. Dengan demikian, anak secara OTOMATIS sudah TERBIASA untuk MENGAITKAN teori yang didapatkan di sekolah dengan pengalaman praktis yang dialaminya. Contoh, dari pengamatan (dan foto) tentang "bangku goyang kiri kanan" itu, Agatha dan saya kemudian mengaitkannya dengan RESULTAN GAYA-GAYA yang kami berikan kepada bangku kayu ini, yang kebetulan KONSTRUKSI-nya tidak kokoh, sehingga bangku kayu bisa goyang kiri dan kanan (dan pasti lambat laun akan rusak !). Seandainya KONSTRUKSI bangku kayu itu kokoh / kuat, maka RESULTAN GAYA-GAYA yang kemi berikan tidak mampu membuat bangku kayu itu bergoyang kiri dan kanan. Sehingga, anak belajar tentang FISIKA  di luar kelas, dalam hal ini di warung "nasi ayam".


Bangku kayu yang tidak kokoh konstruksinya (foto di atas)

Selamat menemani anak.

Selamat menemani anak supaya anak bisa BELAJAR tentang TEORI PELAJARAN justru pada saat berada di warung makan (atau di tempat lain) saat jalan-jalan dengan orang tua. Orang tua dapat memanfaatkan Google yang ada di Smartphone / Tablet / BB yang selalu dibawa oleh orang tua ke mana saja. Jadi, Smartphone / Tablet / BB itu juga menjadi SARANA PENDUKUNG bagi orang tua untuk menemani anak-anaknya belajar DI LUAR SEKOLAH.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".


Warung Nasi Ayam (foto di atas)

-----o0o-----


Foto dan tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi - Anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922. 

MINAT, BAKAT, HOBBY



Blog Inspirasi Pendidikan Kreatif - Edisi 31 Desember 2013

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Pembaca Blog Holiparent Yth.,

Sudah lama saya tidak hadir dalam tulisan di blog inspirasi pendidikan kreatif ini. Bukan apa-apa. Karena kesibukan kuliah di Psikologi Industri & Organisasi - Universitas Katholik Soegijapranata sambil tetap mengelola Manajemen Sumberdaya Manusia di beberapa perusahaan-lah, maka saya cukup lama absen. Semoga Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak sudi untuk memaafkannya.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Bagaimanapun, menulis di akhir tahun 2013 ini adalah sesuatu yang istimewa. Untuk itu, secara khusus saya hadir dengan tulisan ini, tepat di tanggal 31 Desember 2013.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Hari ini, Selasa 31 Desember 2013, sekitar pk. 05.30 WIB anak saya (Agatha, kelas IX alias kelas III SMP) dan saya bersepeda berdua. Hujan rintik-rintik tidak menghalangi rencana bersepeda yang sudah kami buat sejak Senin sore hari sebelumnya.

Kami berdua bersepeda tidak jauh dari rumah. Bersepeda pelan-pelan sambil melihat-lihat keadaan kiri dan kanan. Lalu, kira-kira setelah bersepeda 30 menit, kami sarapan bubur kacang hijau hangat yang dijual di pinggir jalan.

Nah, sambil makan bubur kacang hijau hangat itulah, obrolan yang menjadi idea tulisan ini mengalir....



Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Kami berdua (Agatha dan saya) ngobrol tentang "minat dan bakat". Seperti biasa, obrolan seperti ini ringan tetapi bermakna. Dalam obrolan sambil makan bubur kacang hijau hangat plus rintik hujan di pagi hari itu, saya bercerita kepada Agatha bahwa "minat" adalah sesuatu yang "seseorang ingin melakukannya" karena dia melihat orang lain melakukannya, atau karena adanya alat-alat / fasilitas tertentu. Jadi, minat itu "lebih dominan tergantung pada hal-hal di luar diri orang itu sendiri".

"Melihat banyak orang bersepeda di pagi hari, orang bisa jadi berminat bersepeda juga. Tetapi ketika "trend" bersepeda ini memudar, orang juga jadi bosan bersepeda," kata saya. "Ini berbeda dengan orang yang memang punya bakat bersepeda. Dia selalu senang bersepeda, entah bersepeda sedang jadi trend atau tidak. Bahkan, dia bisa berprestasi dalam olah raga bersepeda".

BAKAT MENULIS ATAU MINAT MENULIS ?

"Sejak kecil, Agatha suka mengetik. Mungkin karena melihat Nonoh suka mengetik, dan di rumah ada mesin ketik," lanjut saya. "Nonoh" adalah nama panggilan saya. "Tetapi kemudian terlihat bahwa Agatha selalu senang mengetik, bahkan tulisannya dimuat di Majalah Sekolah sewaktu SD maupun SMP. Juga ikut kegiatan Jurnalistik dan menjadi Pemimpin Redaksi sewaktu SD maupun SMP. Itu prestasi. Guru-guru SD dan SMP mengakui bahwa Agatha berbakat menulis. Bukan hanya berminat menulis".

"Kalau hobby itu apa ?" tanya Agatha.

"Hobby itu adalah kegiatan yang dilakukan seseorang di waktu luang. Orang melakukannya karena merasa senang, bukan karena keharusan misalnya untuk mendapatkan uang," jawab saya. "Hobby ditanyakan untuk mengetahui apa minat seseorang. Kalau hobby itu dilakukan secara terus-menerus tanpa rasa bosan, bahkan dia bisa berprestasi atau terlihat menonjol di bidang itu, maka dia memang berbakat di bidang itu. Bakat itu lebih dari sekedar minat".

MENGEMBANGKAN BAKAT UNTUK BEKERJA

Karena Agatha sudah kelas IX alias kelas III SMP, bahkan sudah diterima di SMA Kolese Loyola, maka saya mengajak Agatha untuk "membicarakan pekerjaan" yang mungkin akan dia pilih di masa mendatang.

"Agatha senang menulis, bahkan orang mengakui kalau bakatnya adalah menulis. Juga suka fotografi. Bakat fotografi juga diakui oleh Pak Par, Guru Ekstra Fotografi. Agatha berkali-kali menang lomba fotografi meskipun tidak ikut Ekstra Fotografi," kata saya. "Agatha suka dengan Ekologi, suka dengan Fisika, Biologi, Kimia. Agatha bercita-cita jadi Ekolog, seperti yang dikatakan waktu Wawancara Seleksi Murid Baru di SMA Kolese Loyola. Agatha juga suka membaca Majalah National Geographic. Bisa jadi, Agatha jadi Ilmuwan sekaligus Penulis Ilmu Alam".



Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Apa yang saya ceritakan di atas adalah tentang obrolan saya dengan anak saya, yaitu tentang mengamati dan menggali bakat yang dimiliki oleh anak. Sebagai seorang Praktisi Psikologi Industri selama 12 tahun, saya melihat kenyataan di banyak perusahaan bahwa orang yang bekerja sesuai dengan bakatnya akan menjadi karyawan atau profesional yang lebih tahan stress dan lebih baik kinerjanya.

Itu sebabnya, menjadi sangat penting bagi kita (para orang tua) untuk mengamati dan menggali bakat anak, setidaknya sejak anak masih kelas 1 atau 2 atau 3 SD (ini menurut pengalaman pribadi saya).

Selamat menemani anak.

Selamat mengamati dan menggali serta memfasilitasi pengembangan bakat anak. Tentu saja, untuk itu orang tua harus menemani anak, menjadi teman terbaik bagi anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

SELAMAT TAHUN BARU 1 JANUARI 2013 !!! Semoga kita semua selalu dalam berkat dan lindungan Tuhan Yang Mahaesa.... Amin....
-----o0o-----


Foto dan tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph, Ilmuwan Psikologi - Anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922. 

Training with Morooka San

Today I enjoyed a two-hour practice at my private dojo with my friend, and training partner, Morooka Takafumi San (JKA 4th Dan). I won’t unveil our practice here; but, as always, training with him was excellent. Domo arigato gozaimashita Morooka San. Osu, André.

 © André Bertel. Aso-shi, Kumamoto. Japan (2013).

2013 winds down

2013 has been a very-very busy year for me. It included doing my final semester at the University of Canterbury; graduating and receiving my degree in absentia; teaching karate seminars in South Africa and New Zealand; moving back to Japan; joining the Japan Karate Association (JKA); attending a seminar by Shuseki-Shihan Masaaki Ueki (9th Dan); testing for JKA 5th Dan; celebrating seven years of being married.., the list goes on…

 One thing I can say, reflecting on all the busyness of 2013, is that it has been a very productive and happy 12 months. Furthermore, 2013 has provided me with ample opportunities to grow as human being. Needless to say, Karate-Do has been a major force in this process.
 
Today's training was hard and, yet again, showed me that I still know nothing about karate. Accordingly, this inspires me to continue my daily practice and keep seeking Karate-Do. Whether I can ever get `good' or  not is irrelevant. My aim is to simply move forward as best I can.

 I’d like to use this opportunity to thank everyone whom I have been fortunate to come into contact with this year through Karate-Do. Thank you all very much!

 Finally, I’d like to wrap up by wishing you, and your family, a very happy and healthy 2014. Kindest regards, Osu.

André Bertel

© André Bertel. Aso-shi, Kumamoto. Japan (2013).

Developing your `Radar'

It is obvious that nation states, in the modern world, without radar and other detection systems would be extremely vulnerable. Likewise, the concerted development of `radar like awareness’ is also essential for budoka (martial artists). But how can one develop such awareness? Well there are several ways, but the most important of these—in standard karate training—are as follows:

 Firstly, when practicing kihon or kata, in their solo forms of training, one needs to maintain constant awareness: of their surroundings/opponent(s). This takes immense mental discipline, but in time, becomes second nature.

 Secondly, when practicing jiyu-kumite don’t only focus on your opponent, but what’s around you—be ready for anything. Likewise, in the case of yakusoku-kumite (prearranged sparring), don’t concentrate on the `announced attack’ but rather be ready for a mawashi-zuki (roundhouse punch); someone applying a shimewaza (strangulation technique) from behind; a rugby tackle; a gedan mae-geri instead of a jodan oi-zuki, etc... As emphasized before, this ultimately becomes a concerted effort that one consciously undertakes in every moment of one’s training.

 By and large, `keeping your radar switched on’ becomes just like other fundamental skills, such as using your hips when you perform techniques or not changing height (during steps, turns and stance transitions).

Lastly, and most importantly, one needs to intensify their training environment whilst adhering the two aforementioned points. Only by having an intense/realistic training environment, and by maintaining self-discipline, can one sharpen their `detection capabilities’ to a high level. I hope the critical importance of fostering this skill has been vividly highlighted in this article; moreover, that developing it requires a concerted effort in one’s daily practice.

 © André Bertel. Aso-shi, Kumamoto. Japan (2013).

Completely dedicated to kata

My training today was completely dedicated to kata. The session consisted of Heian-shodan; Heian-yondan; Tekki-shodan; the `Big Four’—Bassai (Dai), Kanku (Dai), Empi and Jion; and of course, Nijushiho.

In particular, I find the `Big Four’ extremely challenging due to their extreme technical diversity and unique `characteristics’. Like the Heian kata, they force me to face the weaknesses in my foundational techniques; albeit, in a more profound and merciless way. In this manner, one’s tokui kata becomes a real “treat”, a chance to shine a little, when practiced alongside these unforgiving challengers.

 Warm up: The session was tough as my junbi-undo (preparatory exercises/warm up) took much longer than usual: due to the extreme cold... Thank God for the new dojo! That being said, it was great to finally get warm and get stuck into training—the rewards of winter training.

 Training:Without undermining its utmost importance, Heian Shodan was used my `specific warm up’; subsequently, this led on to blasting out Heian Yondan, and Tekki Shodan. It was then onto Bassai Dai, Kanku Dai and Jion, which I only executed a couple of times each. Lastly, I extensively worked on Empi and Nijushiho.

 
Conclusion: I have to say that it was nice to spend an entire training dedicated to kata. Taken as a whole, I believe that the kata of karatedo are amazing tools for gaining a window of technical introspection; what is more, they are at the heart of self-training— the “key of self-motivation”—amongst long-time practitioners. These two points make kata invaluable and, for that reason, should not be forgotten in the overall context of budo (martial arts) training.
 © André Bertel. Aso-shi, Kumamoto, Japan (2013).

Wisata Belanja Tugu Malang



Lokasi di lapangan Rampal yang dimiliki oleh militer dianggap kurang strategis, hinggaWisata Belanja Tugu direlokasi ke Jalan Simpang Balapan yaitu berada di sekitar bunderan depannya Ikan Bakar Cianjur  (waktu itu IBC ini belum ada) dan English First (EF).

Namun beberapa bulan kemudian Pasar Minggu pagi ini kembali dipindah mendekati stadion Gajayana di mana tempat awal mula pasar pagi ini berasal. Tapi berada di badan Jalan Semeru sekaligus menutup jalan mulai dari perempatan Jalan Bromo hingga ke persimpangan Jalan Ijen. Badan jalan yang di depan De Liv  digunakan untuk lahan parkir pengunjung pasar yang mulai beroperasi mulai pukul 6.00 WIB s/d 10.00 WIB .

Bagi Anda yang hobi memuaskan hasrat belanja, di sinilah tempat yang pas. Aneka keperluan sehari-hari hingga kuliner seperti lepat jagung, gethuk lidri, cenil, lupis, klepon, putu hingga kue �modern� seperti pizza, burger dan cokelat pralinetersedia. Bila kudapan itu dirasa kurang nendang, ada berbagai pecel, sate, siomai, batagor, nasi rames, nasi uduk, kupang dan soto. Untuk pendampingnya, ada berbagai jus, es dan minuman hangat.

Busana seperti pakaian batik, kaos arema, pakaian untuk anak-anak, pakaian untuk perempuan, kaos dari bertemakan yogyakarta dan juga asesoris-asesoris seperti ikat pinggang, dompet, topi juga ada. Soal harga ? Hmm.. tak perlu ditanyakan lagi, karena sangat terjangkau dan bisa ditawar.



Lokasi pasar Minggu Pagi dulunya berada di sebelahnya stadion Gajayana yang kemudian pada awal tahun 2008 dikarenakan akan dibangun MOG(Mall Olympic Garden)  pemerintah setempat memindahkan lokasi ini ke lapangan Rampal di Jalan Panglima Sudirman yang berseberangan dengan Hotel Megawati  dan Bale Barong Cafe .




Selain itu juga ada pedagang yang menjual peralatan makan/dapur, perlengkapan tempat tidur, mainan anak, kerajinan, dan mata uang kuno untuk para kolektor atau mahar pernikahan. Wah.. rasanya hari Minggu pagi di kota Malang belum afdol kalau belum singgah ke Wisata Belanja Tugu!






















Batu Flora Festival

Saat Arachely Serena Pramudya 2Bulan, sempat melihat rangkaian HUT Kota Batu, gelaran Batu Flora Festival siap menghibur warga Batu. Acara ini digelar  dengan rute Agritech - Jl. Pang.Sudirman - Jl. Gajahmada - Belok sebelum SMA 1 ke Stadion Brantas.

Acara Batu Flora Festival ini merupakan bentuk dari apresiasi seni dan kecintaan warga Batu akan potensi alam yang dimiliki Kota Wisata Batu.

Batu Flora Festival  dibuka oleh Walikota Batu, Bapak Eddy Rumpoko. Menurut sumber, peserta yang mengikuti acara ini sejumlah 53 peserta dari berbagai bagian baik dari desa, sekolah, institusi swasta maupun SKPD di pemerintahan kota Batu.
Batu Flora Festival di buka dengan penampilan drum band kemudian di ikuti oleh Patwal dan disusul oleh drum band kembali, disusul dengan tampilan perdana dari grup Jatim Park yang menampilkan mobil hias dan koleksi dari wahana terbaru berupa kendaraan antik dari museum transportasi atau alat transportasi. Peserta yang mengikuti BFF  akan dinilai oleh juri yang disebar di beberapa titik.

Diharapkan gelaran acara BFF ini akan menjadi hiburan yang bisa dinikmati oleh masyarakat Kota Batu dan masyarakat secara umum.

Batu Flowers Festival (BFF) yang berlangsung meriah di Kota Batu. Kali ini, kota sejuk di Jawa Timur itu mengangkat tema daur ulang, meski demikian bunga-bunga terlihat cantik walau hanya terbuat dari bahan imitasi hasil proses daur ulang.

Iring-iringan dimulai dari stadion utama  hingga alun-alunkota Batu ini, kian semarak dengan  peserta  dari berbagai kota di Jawa dan Bali. Bukan hanya para pria, peserta wanita pun tak kalah heboh ambil again dalam festifal ini.
“ini berbagai bunga ada disini, …dari bahan daur ulang, pake bahan biasa yang murah paling mahal 3 ribu 5 ratus permeter … “ ungkap salah satu peserta.
Yang menarik, ajang Batu Flower Festival yang diadakan oleh dinas pariwisata Kota Batu ini, sukses menantang kreatifitas anak bangsa dalam menampilkan keindahan bernuansa bunga hasil kreasi bahan daur ulang.  
 “…memberikan kreatifitas, … dengan adanya Festival ini Kota Wisata Batu lebih dikenal…”














Event internasional ini dibuka oleh Menteri Kebudayaan, Jero Wacik. Sedangkan Menteri Pendayagunaan dan Aparatur Negara EE Mangindaan, juga ikut serta hadir., dan mengundang Gubernur Jatim, Gubernur Sulawesi Utara, Bupati/Wali Kota serta Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata se-Jatim yang mana acara ini dimeriahkan dengan berbagai acara menarik antara lain:
  1. Pawai mobil hias
  2. Flowers fashion show
  3. Atraksi kesenian kota Batu dan Minahasa
  4. Parade music
  5. Drum band, dan masih banyak lagi
 “Pagelaran BFF ini otomatis akan memberdayakan masyarakat melalui petani bunga segar di masyarakat Kota Wisata Batu. Karena disamping terkenal sebagai penghasil buah apel, kota ini juga menjadi pusat penghasil bunga segar, dan event seperti ini diharapkan akan mampu mempromosikan Kota Batu sebagai Kota Wisata dan mampu mengembangkan marketing dan daya saing hasil bunga dari masyarakat Kota Wisata Batu ke seluruh dunia