Menemani Anak ke Museum Sangiran : PENGETAHUAN YANG BERKEMBANG






Masih melanjutkan tulisan terdahulu tentang Museum Manusia Purba di Sangiran (sekitar 18 km utara Solo, Jawa Tengah).

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,


Selain belajar tentang manusia purba, kunjungan ke museum ini juga memberikan wawasan dan pengetahuan baru tentang ke-ilmu-an tertentu yang dikembangkan sehingga menjadi ahli di bidang tertentu, yang (mungkin) belum kita ketahui sebelumnya.


Di Museum Sangiran, dijual buku dengan gambar-gambar dan ulasan yang sangat menarik tentang manusia purba. Buku ini ditulis oleh Profesor Etty Indriati, seorang guru besar di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Beliau adalah Doktor lulusan University of Chicago, Amerika Serikat dalam bidang Bio & Paleoantropologi. Beliau banyak melakukan penelitian tentang keragaman manusia Indonesia, baik manusia yang hidup sekarang maupun  (fosil) manusia purba di masa silam.



Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Meskipun kami (anak, istri, dan saya) tidak berkesempatan bertemu langsung dengan Profesor Etty Indriati, namun beliau telah memberikan tambahan wawasan kepada kami sekeluarga : Profesor Etty Indriati memiliki gelar lengkap Prof. drg. Etty Indriati, Ph.D. Ya, beliau adalah dokter gigi yang mengembangkan ke-ilmu-annya sedemikian rupa sehingga menjadi ahli manusia purba.

Kami lalu jadi ingat tentang Profesor saya dan istri saya : Prof. Dr. Ir. Widodo Farid Ma'ruf dari Fakultas Perikanan Universitas Diponegoro yang sekarang ini menjadi ahli "rumput laut" (algae) dalam segala aspeknya, baik budidaya maupun manajemen / tata niaga-nya, termasuk hukum / kebijakan pemerintah di bidang ini. Awalnya, Profesor Farid Ma'ruf adalah Insinyur Perikanan. 

Add captio\\n


Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Pengalaman-pengalaman seperti ini membuat kita sebagai orang tua dapat memberikan pendampingan kepada anak tentang luasnya kesempatan bagi anak untuk mempelajari suatu ilmu dan kemudian mengembangkannya sesuai minat dan bakat anak, sehingga anak nantinya menjadi ahli di bidang tertentu.



Bahkan di perusahaan besar seperti Coca-Cola, ada Paul Austin yang menjadi "Chief Executive Officer" Coca-Cola Company di Amerika Serikat tahun 1966-1981, seorang visioner yang mengembangkan Coca-Cola. Paul Austin adalah seorang pengacara / advokat, yang sukses memimpin perusahaan bisnis yang besar. (Ini juga "semacam" pembelaan saya bagi teman-teman advokat / pengacara di mata masyarakat, bahwa advokat / pengacara juga mahir memimpin perusahaan, bukan sekedar jago "ngeyel" saja).

Tidak dapat dipungkiri, istri saya yang Sarjana Perikanan lulusan Universitas Diponegoro nyatanya sejak tahun 1996 sampai sekarang bekerja sebagai bankir. Tentu saja, supaya "nyambung", dia meneruskan studi Magister di bidang Manajemen. Saya sendiri, Sarjana Perikanan lulusan Universitas Diponegoro yang sejak tahun 1995 bekerja jadi bankir dan sekarang jadi praktisi psikologi industri, supaya "nyambung" juga meneruskan studi di bidang manajemen, hukum, dan tentu saja psikologi.

Ketika anak saya menanyakan hal ini kepada saya, saya menjawabnya dengan jelas, bahwa hidup itu yang penting dimulai dengan kesungguhan hati, sesuai minat dan bakat yang ada pada masing-masing orang. Tidak ada yang namanya "salah sekolah" atau "salah kuliah", selama orang tersebut menjalaninya dengan sungguh-sungguh. 

Memang, Sarjana Perikanan memang "jauh" dengan psikologi industri, tetapi saya punya pengalaman praktis yang menarik, yang akan saya ceritakan berikut ini.



Ketika masih kuliah di Perikanan Universitas Diponegoro, ada kuliah (dan praktikum di laut) yang namanya Metode Penangkapan Ikan (MPI) dan Fishing Gear and Material (FGM). Intinya, kuliah (dan praktikum di laut) ini memberikan pengetahuan dan pengalaman nyata bahwa ikan jenis tertentu memiliki karakteristik tempat hidup dan kecepatan renang tertentu sehingga untuk menangkapnya dibutuhkan kapal dan alat tangkap dengan disain bentuk yang khusus dan kecepatan yang khusus, yang dioperasikan di wilayah laut tertentu pada musim tertentu pula. Intinya, ini adalah alamiah, dan yang alamiah tidak bisa kita perlakukan semau kita supaya kita tidak kecewa. Kalau kita menentang alam, tidak selaras dengan alam, "semau gue", maka kita tidak akan mendapatkan hasil tangkapan ikan sesuai harapan kita. Misalnya : menangkap ikan tuna dengan jaring, pasti tidak / kurang sukses, karena seharusnya memakai alat yang disebut "tuna long line".

Nah, saya punya seorang teman yang berpendidikan S-2. Entah dapat inspirasi dari mana, teman ini memasang iklan lowongan kerja di berbagai surat kabar (tanpa berkonsultasi dengan saya). Ketika akhirnya beliau memberitahu saya bahwa iklan lowongan itu tidak berhasil merekrut pelamar / kandidat yang diharapkan, saya tidak terkejut. Mengapa ? Sebab menurut saya, iklan lowongan kerja yang dipasang oleh beliau itu menentang alam / tidak sesuai dengan kondisi alamiahnya. Kalau menggunakan istilah Metode Penangkapan Ikan dan Fishing Gear and Material, diibaratkan mau menangkap ikan hiu kok memakai pancing dan memancingnya di kolam ikan air tawar. Ya...mana mungkin dapat ikan hiu !



Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Apa yang saya sharingkan di sini adalah fakta-fakta bahwa pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang masih selalu dapat dan perlu dikembangkan, supaya orang itu menjadi ahli di bidangnya. Dan bahwa tidak ada sekolah atau kuliah yang "salah jurusan", karena sebenarnya apapun yang sudah dipelajari dengan sungguh-sungguh pasti ada manfaatnya.

Selamat menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".

Seri Museum Sangiran : HOMO ERECTUS




Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Karena kesibukan menjelang akhir tahun maka Blog Holiparent ini memang terpaksa tidak terbit selama hampir satu minggu. Tidak bisa tidak, saya harus memohon maaf untuk itu. Juga menghaturkan banyak terima kasih atas kesetiaan para pembaca Blog Holiparent yang selalu setia mengunjungi blog ini.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,



Liburan sekolah kali ini kami manfaatkan dengan jalan-jalan ke Museum Manusia Homo Erectus di Sangiran. Nama Sangiran sudah tidak asing lagi bagi kita, karena sejak kita masih SD dulu (dan juga untuk anak-anak SD zaman sekarang) disebut-sebut dalam pelajaran Sejarah.



Apa menariknya berkunjung ke Museum Sangiran kalau sejak SD sudah diajarkan di pelajaran Sejarah ?

Menariknya adalah ini : di Museum Sangiran dipaparkan secara jelas (sehingga mudah dipahami) penemuan terbaru sesuai hasil penelitian terbaru. Misalnya ini : dulu saya "bingung" karena ada Pithecanthropus erectus, Pithecanthropus soloensis, Pithecanthropus modjokertoensis, Meganthropus paleojavanicus. Sekarang, itu semua digolongkan ke dalam Homo erectus. Homo erectus alias manusia yang berdiri tegak ini "lebih modern" dibandingkan Homo arcaic, tetapi masih "kalah modern" dibandingkan Homo sapien alias manusia modern. Tentu saja, kita semua yang hidup saat ini termasuk Homo sapien.



Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Mumpung masih liburan, tidak ada salahnya menemani anak berkunjung ke Museum Sangiran. Kalau dari Semarang, kira-kira 3 jam perjalanan dengan mobil (kecepatan rata-rata 60 km per jam). Kalau dari Solo, kira-kira hanya 30 menit saja.

Jadi, selamat menemani anak. Sambil piknik, juga menambah dan "memperbarui" pengetahuan.

"Menenani Anak = Mencerdaskan Bangsa"



-----o0o-----

Foto oleh Bernardine Agatha, Susana Adi, dan Constantinus Joseph.

BAGI YANG TIDAK JAGOAN MENGHAFAL....





Belajar dengan menghafal memang tidak (selalu) mudah. Beberapa anak memang memiliki kemampuan yang bagus untuk menghafal. Beberapa yang lainnya tidak. Saya termasuk golongan yang kedua.

Bagi anak yang punya kemampuan bagus untuk menghafal, tidak saya bahas di sini. Bagi yang kalau menghafal harus "usaha keras minta ampun" (seperti saya), memang harus memakai kiat khusus. Tentu saja, ini berdasarkan pengalaman yang sudah saya lakukan juga.

PERTAMA, Menciptakan gambaran ketika menghafal, bukan hanya sekedar menghafal. Sering, saya harus menghafal sambil menulis RINGKASAN atau membuat GAMBAR / DENAH / SKETSA tentang apa yang sedang dihafalkan. Sesaat sebelum ulangan, yang dibaca ulang adalah ringkasan / gambar / denah / sketsa ini, tidak perlu membuka / membaca semua buku yang tebal lagi (karena semua sudah diringkas). Tentu saja, ringkasan ini bukan sebagai alat untuk mencontek.

KEDUA, Setiap kali melihat barang / alat dalam kehidupan nyata sehari-hari, LUANGKAN WAKTU untuk menikmatinya, mengamatinya, merenungkannya, mengaitkannya dengan teori yang sudah didapat di sekolah.

Saya sedang "jalan-jalan" (seperti biasa, sambil membawa kamera digital), ketika saya sampai di depan Pasar Bulu yang sedang dibangun lagi. Di sana, saya melihat  "crane" untuk mengangkat (orang teknik menyebutnya sebagai alat "angkat - angkut") barang-barang yang berat. Saya menghentikan langkah kaki. Berhenti. Mengamati. Memotret. Mengingat teori pelajaran Fisika tentang "pikulan" : lengan yang pendek diberi beban yang berat, lengan yang panjang diberi beban yang lebih ringan (sekalipun dalam hal ini, "beban yang lebih ringan" ini pasti berat  juga; jadi betapa beratnya "beban yang berat" yang dipasang di lengan "pikulan" yang pendek itu).

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Tulisan kali ini saya buat sebagai ajakan untuk mengajak dan menemani anak "menikmati, mengamati, merenungkan" barang-barang yang dijumpai secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, untuk lebih MEMPERKUAT GAMBARAN / PENGERTIAN anak belajar, terutama kalau anak termasuk yang "sulit menghafal kalau tidak ada gambaran nyata". Memang, tidak semua teori dapat dengan mudah kita jumpai dalam kehidupan nyata sehari-hari. Tetapi ketika ada barang yang bisa dijadikan alat untuk memperkuat gambaran tentang teori, jangan lewatkan kesempatan baik untuk mengamatinya....

Selamat menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".

-----o0o-----

Foto dan tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph (Sarjana Ilmu Alam dan Sarjana Ilmu Sosial, anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922).

LAGU ANAK-ANAK





Malam itu saya sedang berjalan-jalan dengan anak dan istri saya di Citraland Mall - Semarang.

Ternyata, Citraland Mall - Semarang malam itu sedang menggelar panggung yang mementaskan band anak-anak dalam rangka promosi "Crazy Birds". Band anak-anak itu menyanyikan lagu-lagu anak-anak, seperti lagu "...ayo kawan kita bersama...menanam jagung di kebun kita..." dan masih banyak lagi.

Tentu saja, ada banyak anak-anak (diantar / ditemani orang tuanya) yang menyaksikan dengan pandangan mata berbinar-binar.

Kebetulan, anak saya memang sudah kelas VIII alias kelas II SMP, tetapi ini tidak mengurungkan niat kami bertiga (anak, istri, dan saya) untuk berhenti dan menonton / memperhatikan, bukan hanya para personil band anak-anak itu main band dengan sangat bagus dan interaktif dengan para penonton yang juga masih anak-anak, tetapi kami juga menonton dan memperhatikan perilaku dan pandangan mata kagum dan bahagia sekian banyak anak-anak yang menikmati pentas band anak-anak itu.



--------------------

Beberapa tahun lalu, saya sempat tersenyum kecut (tersenyum tapi tidak bahagia) ketika di sebuah panggung ada seorang anak usia 5 tahun-an menyanyikan dengan polos lagu dangdut orang dewasa yang syairnya berkonotasi jorok / vulgar / hubungan sex suami-istri. Anak itu (saya yakin) tidak paham akan syair itu. Saya lihat, orang tua anak itu bangga dengan kemampuan anaknya menyanyikan di atas panggung "lagu orang dewasa yang sensual" itu. Sekali lagi, saya hanya tersenyum kecut. Miris rasanya hati saya. Entah bagaimana dengan sekian banyak penoton lainnya....

--------------------

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Dalam banyak hal, anak belum dapat memilih sendiri apa yang baik untuk dirinya. Misalnya, anak usia 5 tahun yang menyanyikan dengan polos lagu dangdut orang tua yang syairnya berkonotasi jorok / vulgar / sensual tentang hubungan suami-istri tadi. Dalam hal seperti itu, orang tua harus dengan bijaksana memilihkan lagu-lagu untuk didengar, dinyanyikan, bahkan dipentaskan anak-anaknya.

"Tapi pentas band anak-anak seperti itu 'kan tidak setiap saat ada, Nus," kata teman saya, ketika saya ngobrol dengan dia tentang perlunya anak-anak ditemani menonton pentas lagu anak-anak.

"Setidaknya, kalau beli kaset atau CD atau VCD, ya jangan cuma lagu-lagu buat orang tua, tetapi harus juga lagu-lagu untuk anak-anak," kata saya.

Jadi, memang anak harus kita belikan susu dan makanan bergizi yang diperlukan untuk perkembangan tubuh fisiknya. Dan jangan lupa, anak juga harus dibelikan lagu anak-anak (jangan disuruh mendengarkan lagu orang dewasa yang dibeli bapaknya/ibunya), karena lagu anak-anak ini diperlukan untuk perkembangan (tubuh) kejiwaan si anak.

--------------------

Selamat menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".

-----o0o-----

Foto dan tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph, ilmuwan psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922.
MENGATUR WAKTU, MENEMANI ANAK

MENGATUR WAKTU, MENEMANI ANAK



Dalam sebuah acara pelatihan yang diadakan oleh salah satu perusahaan perbankan bagi para karyawannya, seorang karyawati bertanya tentang "apakah saya salah kalau saya di pagi hari pasti marah kepada anak-anak, bahkan sampai 'main tangan' alias mencubit atau memukul anak, sebab anak seolah-olah tidak mau tahu bahwa saya harus buru-buru mempersiapkan ini dan itu kemudian segera berangkat kerja".

Training ini memang mengangkat tema tentang komunikasi dan kepemimpinan di tempat kerj, dan pertanyaan tadi muncul karena pada prakteknya "orang yang ketika di rumah / akan  berangkat kerja sudah banyak masalah / tidak enak hati, pasti komunikasi dan kepemimpinannya di kantor juga akan terpengaruh". Memang, secara teori (idealnya) dikatakan bahwa "masalah rumah jangan dibawa ke kantor, masalah kantor jangan dibawa ke rumah". Pada prakteknya, suasana hati tidak dapat dibagi-bagi seperti itu.

Yang menjadi trainer dalam pelatihan ini adalah Psikolog Dra. Probowatie Tjondronegoro, M.Si. Menjawab pertanyaan tadi, psikolog di Rumah Sakit Elisabeth Semarang ini mengatakan bahwa orang tua harus memahami bahwa anak usia sampai 5 tahun belum paham / belum punya konsep tentang waktu.

"Artinya, orang tua tidak layak untuk jengkel apalagi marah karena anak tidak tahu bahwa orang tuanya harus buru-buru menyiapkan ini itu di pagi hari supaya tidak terlambat masuk kerja, karena anak sampai dengan 5 tahun memang belum punya pemahaman tentang waktu, tentang jam, tentang terlambat. Itu sebabnya, ketika orang tua sedang sibuk melakukan ini itu di pagi hari sebelum berangkat kerja, anak justru rewel seolah-olah minta perhatian (dan malah membuat jengkel) karena anak memang belum tahu," kata Psikolog Probowatie.

Lebih lanjut Psikolog Probowatie juga mengatakan bahwa yang dapat dilakukan oleh orang tua dalam kondisi seperti itu adalah mendisiplinkan diri sendiri dengan mengatur / merencanakan semua yang harus dikerjakan di pagi hari dengan sebaik mungkin, dan kalau memang ada yang sudah bisa dikerjakan di malam hari sebelumnya, seharusnya dilakukan / dipersiapkan di malam hari sebelumnya. "Dengan demikian di pagi hari sudah tidak terlalu sibuk dengan ini itu. Tetapi kalau dengan cara ini pun masih banyak yang harus dilakukan di pagi hari, maka orang tua harus bangun lebih pagi sehingga tidak terburu-buru mengerjakan ini itu," kata Probowatie.

--------------------

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Dalam menemani, membimbing, mendidik anak, kita memang harus dapat memahami dan menyelami pikiran anak. Dalam uraian di atas, ketika anak sepertinya tidak mau tahu bahwa orang tuanya sedang tergesa-gesa di pagi hari (sebelum berangkat kerja), sebenarnya bukan disebabkan karena anak tidak mau memahami ketergesa-gesaan orang tuanya, tetapi hal ini disebabkan anak memang belum punya konsep tentang waktu (karena masih berusia sampai 5 tahun). Tentu saja, sejalan dengan bertumbuhkembangnya anak, anak juga harus di-ajar-i tentang waktu dan tentang disiplin waktu juga.

--------------------

Selamat menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".

--------------------

Tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph.

Cerita Kepada Anak : Buah dari Ketekunan

Cerita Kepada Anak : Buah dari Ketekunan



Pengalaman hidup sehari-hari merupakan salah satu bahan cerita bagi anak-anak kita. Jadi, cerita untuk anak tidak harus "Kancil Mencuri Mentimun" atau yang sejenisnya. Yang penting, cerita itu sesuai dengan usia anak dan di akhir cerita diberikan nilai positif yang dapat diambil.

--------------------
Saya sedang melihat-lihat handphone keluaran terbaru yang dapat dipakai untuk nge-blog, ketika seorang pria (belakangan saya ketahui bernama Zainur) memberikan "demo-life" (saya tidak tahu, kenapa tidak disebut "life demo") produk handphone Nokia Lumia 610.

Mas Zainuri sangat ahli dalam menjelaskan dan mendemonstrasikan handphone yang ada di tangannya. Sebagai orang yang juga menjadi praktisi dan konsultan marketing pun, saya kagum pada ketrampilannya dan juga kecintaannya pada produk yang ditawarkannya. (Saya juga punya pengalaman lain, ada orang yang melakukan "demo life" dengan kemampuan yang rendah dan tidak / kurang punya rasa cinta pada pekerjaan / produk yang ditawarkannya. Sangat tidak menarik).

Ketika itu, sesampainya di rumah, saya menceritakan tentang orang yang begitu bagus melakukan "demo life" kepada anak dan istri saya. Saya katakan bahwa karena saat itu saya memang sedang tidak bawa uang (dan memang belum punya uang), maka saya tidak membeli produk Nokia Lumia itu. Saya juga mengatakan kepada anak dan istri, semoga rejeki orang itu lancar karena banyak yang membeli produknya, sebab dia sudah bekerja dengan baik dan penuh semangat.

--------------------

Kira-kira tujuh bulan setelah kejadian itu, saya pergi ke sebuah toko untuk membeli handphone. Saya tidak bertemu Mas Zainur, karena saya membeli di toko yang menjual dengan harga termurah. Transaksi pembelian pun berjalan, dengan dilayani oleh seorang karyawati yang ramah dan juga bersemangat, namanya Mbak Astrid.

Setelah itu, seperti biasa, maka pembeli akan diberi penjelasan tentang barang yang dibelinya. Penjelasan itu diberikan oleh petugas khusus yang ahli tentang produk yang dibeli, dalam hal ini Nokia Lumia 900. Dan, ketika petugas itu datang, saya langsung ingat....dia adalah Mas Zainur, si pembeli "demo life" yang bersemangat itu...yang memberikan demo kepada saya tujuh bulan lalu di toko yang lain.

"Ini termasuk poin penjualan untuk Anda, Mas ?" tanya saya.

"Iya, Pak... Selain juga untuk Mbak Astrid," jawabnya.

Saya berkata bahwa saya terkesan dengan ketrampilannya dan semangatnya dalam memberikan "demo life" berbulan-bulan yang lalu, dan itu sebabnya saya masih mencari Lumia ketika ingin membeli handphone baru.

--------------------

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Saya tidak bermaksud promosi...atau pamer... Tentu saja, ada banyak handphone yang harganya lebih mahal dari Lumia. Tetapi yang saya sharingkan adalah ini : bahwa saya bisa bercerita (cerita sambungan) kepada anak...bahwa Tuhan itu memberikan rejeki kepada orang yang bekerja dengan sungguh-sungguh...bahwa Mas Zainur yang tujuh bulan lalu melakukan "demo life" kepada orang yang sejak awal sudah berkata "saya hanya lihat-lihat saja, karena tidal punya uang", ternyata di kemudian hari saya menjadi pembeli produk itu...dan tetap bertemu Mas Zainur...meskipun saya membeli di toko yang lain.

Kesimpulannya : orang yang bekerja dengan baik akan diberi rejeki oleh Tuhan, meskipun tidak pada saat itu juga.

--------------------

Selamat menemani anak.

"Menemani Anak, Mencerdaskan Bangsa"

---------------
Tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph.

ANAK BUKAN BURUNG BEO







Bagaimana supaya anak menjadi kreatif ?

Pertanyaan seperti itu sering diajukan kepada saya. Dan meskipun ada banyak teori tentang itu, saya tidak mungkin ber-teori ria di hadapan para orang tua, karena memang tidak praktis. Para orang tua (seperti biasa) ingin jawaban yang praktis. Artinya, mudah dimengerti dan mudah diterapkan.

--------------------

Bagaimanapun, saya tidak mungkin melepaskan diri dari teori begitu saja. Hanya saja, memang saya tidak bisa berkotbah tentang teori di hadapan para orang tua yang bertanya. Dan teori yang saya pegang karena mudah dipahami dan praktis adalah bahwa kreativitas itu tidak dapat dipaksakan kemunculannya, tetapi dapat dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya begini.

Hari Minggu tanggal 2 Desember 2012 saya bersama anak dan istri berjalan-jalan di Kawasan Simpang Lima Semarang. Tiba-tiba saja pandangan mata kami bertiga tertuju pada gerobak yang bertuliskan "Es Pisang Ijo". Bukan bermaksud negatif, tetapi tentu saja hanya menjadi bahan diskusi kami bertiga, ketika saya membuka pembicaraan dengan anak saya (dari jarak yang sangaaaaaaaaat jauh dari penjualnya), "Bagaimana kalau bias lebih heboh, ditulisnya Es Pisang Buto Ijo ? Orang pasti beranggapan pisangnya besar-besar, karena memakai kata Buto yang artinya raksasa..."

"Lalu diberi gambar raksasa warna hijau," jawab anak saya.

"Ya... Dan paling tepat diberik gambar Hulk, si Raksasa Hijau yang terkenal," jawab saya lagi.

--------------------

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Obrolan di atas memang sepertinya iseng saja. Tetapi sebagai "orang psikologi" yang sering diminta memberikan sharing tentang "komunikasi marketing dan leadership", obrolan seperti itu adalah hal yang serius di perusahaan. Artinya, orang harus dibiasakan untuk "memberi wajah" yang lebih baru dan lebih menarik perhatian konsumen. Artinya juga, jangan puas dengan "yang biasa-biasa saja, yang datar-datar saja".

Memang, mungkin putra dan putri Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak masih duduk di bangku SD atau SMP. Tetapi seperti yang selalu saya sharing-kan, membiasakan anak untuk "berpikir lateral / berpikir dari sudut pandang yang lain dari yang lain" memang akan membuat anak menjadi terampil berkreasi ketika sudah dewasa.

--------------------

"Jadi memang selalu harus mencari ide-ide yang aneh begitu, ya Pak ?" kata salah satu orang tua.

"Iya," jawab saya. Dan keanehan itu jangan dibatasi. Toh masih sebatas ide, tidak mengganggu ketertiban umum.

--------------------

"Sekolah Musik Piano misalnya, bisa bikin papan yang diberi roda untuk mengangkut piano dan pemainnya. Papan ini didorong atau ditarik bersama-sama oleh 2 atau 3 orang, sambil pianonya dimainkan. Berputar keliling Kawasan Simpang Lima. Pasti banyak orang yang menonton. Nah, kemudian ada petugas yang membagi-bagikan Brosur Kursus Piano. Tetapi karena mungkin banyak yang belum punya piano, dibagikan juga Brosur Penjualan Piano. Tetapi lagi, mungkin ada yang bisanya beli secara kredit, maka dibagikan juga Brosur Bank yang memberikan kredit piano...," kata saya kepada anak saya, sambil makan Soto Bonkarang, masih di Kawasan Simpang Lima Semarang.

"Tetapi kalau rumahnya sudah penuh, bagaimana Pah ?" kata anak saya.

"Nah, itu juga merupakan kesempatan. Ada petugas juga yang membagikan Brosur Penjualan Rumah. Juga, ada yang membagikan Brosur Bank untuk kredit membeli rumah itu," jawab saya lagi.

"Wah, nanti orangnya jadi bingung, Pah... Kredit Piano dulu atau Kredit Rumah dulu," kata anak saya lagi. Maksudnya, kalau orangnya kebetulan tidak mau atau tidak mampu (secara keuangan) untuk kredit keduanya sekaligus.

Ini memang obrolan sambil jalan-jalan pagi. Maka, tentu saja tidak ada solusinya. Tetapi memang di sini yang diutamakan adalah keberanian untuk menemani anak melontarkan gagasan-gagasan baru tanpa batas, sehingga anak juga terbiasa dengan gagasan-gagasan unik dan orisinil seperti ini. Yang penting, ini masih sebatas gagasan. Anak memang harus diberi tahu, kalau akan diwujudkan, maka perlu pertimbangan keuangan, tidak melanggar hukum, dan sebagainya. Tetapi anak juga harus diberi tahu bahwa "ide-ide unik betapapun liarnya" merupakan modal awal yang harus dibiasakan kemunculannya.

--------------------

Selamat menemani anak.

Selamat menemani anak supaya anak tidak hanya sekedar menjadi "seperti burung beo" yang pandai menirukan, tetapi memang kemampuannya ya sebatas menirukan itu. Anak harus ditemani untuk terbiasa punya gagasan unik dan orisinil.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".

-----o0o-----

Foto dan tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph.