Menemani Anak dengan Bercermin pada Diri Sendiri



Sudah seminggu ini saya tidak sempat mengupload entry baru. Beberapa materi yang telah  disiapkan nyaris terlupakan.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Kesibukan adakalanya menggoda kita untuk tidak lagi melanjutkan apa yang telah kita mulai. Dan kita sebagai manusia sekaligus orang tua dari anak kita harus secara JUJUR mengakui itu. Bahwa untuk mengatasinya memang berat. Tetapi berat bukan berarti mustahil.

Kesadaran dan pengakuan yang jujur pada diri kita sendiri ini pada akhirnya akan menjadi MODAL UNTUK MENEMANI DAN MENDAMPINGI ANAK : bahwa anak pun mengalami apa yang kita alami itu. Pertanyaannya : apakah anak akan berhasil mengatasinya ?  Jawabnya: anak secara GENETIS adalah keturunan kita sebagai orang tuanya. Dan, anak juga MENIRU dari apa yang kita lakukan. Artinya : kalau kita sebagai orang tua saja tidak mampu mengatasi rasa malas / godaan yang lain, maka secara jujur harus kita akui bahwa anak memang akan melakukan hal yang sama.

Selamat menemani anak dengan kejujuran dan berkaca pada diri sendiri.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

-----o0o-----

Tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922. Sarjana di bidang Ilmu Alam dan Ilmu Sosial.

Menemani Anak - MAIN GITAR DAN BERSANTAI DI TEPI KOLAM TERATAI




Adakalanya orang tua tetap masuk kerja ketika hari libur. Misalnya, libur nasional 25 Mei 2013 kali ini. Istri saya tetap masuk kerja. Anak saya pun ada janjian dengan teman-temannya di sekolah. Saya sendiri, ini kesempatan yang baik untuk membaca buku-buku yang sudah dibeli tetapi ----- seperti biasa ----- belum sempat dibaca.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Adanya jadwal seperti itu bukan berarti kita tidak bisa menikmati hari libur. Kalau biasanya kita biasa olah raga jalan pagi di hari libur, maka kita tetap melakukan olah raga ini bersama anak dan istri, supaya "rasa" bahwa ini adalah hari libur "tetap ada".

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Jadi meskipun anak dan istri akan ada kegiatan masing-masing, di hari libur nasional Sabtu 25 Mei 2013 ini kami jalan-jalan / "santai-santai" dulu. Murah meriah, kami "main" ke kampus Undip Pleburan (karena saya dan istri dulu kuliah di sini), di dekat gedung rektorat yang lama.



Kami nongkrong saja sambil menikmati pemandangan bunga teratai yang mekar di kolam. Juga menikmati kolam yang sejuk, yang ada ikan mas-nya, juga ada ketam yang sedang "hilir mudik ke sana ke mari" di air kolam. SEDERHANA, DAN ENAK UNTUK DINIKMATI.



Kesempatan bersantai seperti ini juga dapat diisi dengan bermain musik : Agatha ----- anak saya ----- membawa gitar dan main gitar di tepi kolam.

(Video Lagu)

Bagi Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak yang membaca blog Holiparent ini dengan personal computer / laptop / notebook, juga dapat menikmati video pendek tentang Agatha main gitar sambil menyanyikan lagu ciptaannya sendiri di tepi kolam. Kalau ada suara yang lain, itu adalah suara orang-orang yang sedang bermain basket di lapangan basket seberang kolam teratai Undip (masih di dalam lingkungan kampus Undip Pleburan juga). Mohon maaf, bagi Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak yang membaca blog ini menggunakan tablet / smartphone, barangkali perlu software khusus sesuai merek / jenis tablet / smartphone masing-masing.



Masih sambil santai-santai, pulangnya masih bisa beli Kue Lekker yang langsung dibikin setelah kita pesan. Jadi, meskipun hari ini istri masuk kantor dan anak ada kegiatan di sekolah (janjian dengan teman-temannya sendiri untuk mengerjakan tugas sekolah berkelompok), di pagi hari perlu menyempatkan diri untuk bersantai lebih dulu.

Selamat menemani anak.

Selamat menemani anak dengan jalan-jalan dan menikmati kolam yang ada di dekat kita.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".

-----o0o-----

Foto, video, dan tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922. Sarjana di bidang Ilmu Alam dan Ilmu Sosial.

Menemani Anak - MEMPERSIAPKAN BELAJAR UNTUK SEMESTER DEPAN



Di sela-sela kegiatan kuliah malam hari, pasti ada saat-saat libur kuliah. Biasanya setelah Ujian Semester. Ini adalah saat-saat yang membahagiakan untuk saya sebagai mahasiswa (saya sudah bekerja dan sudah punya anak istri ketika kuliah malam, baik di Fakultas Hukum maupun di Fakultas Psikologi. Hanya ketika kuliah di Perikanan saja saya belum menikah, meskipun sudah bekerja jadi guru les privat di tahun 1989-1995).

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Saat-saat libur kuliah seperti ini ----- sekali lagi ----- memang menyenangkan, bisa bersantai. Bukan berarti saya tidak suka / merasa tertekan untuk kuliah. Tetapi sungguh, liburan kuliah memang menyenangkan.

Dan justru di sinilah saya biasanya menggunakan kesempatan ini untuk memberi contoh sekaligus menemani anak : meskipun liburan, saya tetap rutin membaca dan meringkas buku-buku kuliah di rumah, juga buku-buku kuliah SEMESTER MENDATANG yang sengaja sudah saya beli lebih dulu, supaya saya bisa belajar lebih dulu. Ini namanya PLANNING.

Dengan demikian, pada saat anak saya ajak ke toko buku ----- biasanya ke Gramedia ----- untuk membeli buku-buku pelajaran SEMESTER MENDATANG, anak tidak protes, karena saya pun menjalani / memberikan CONTOH YANG SAMA. Anak kita temani untuk MENGISI WAKTU LIBURAN untuk melakukan PLANNING DAN PERSIAPAN BELAJAR lebih awal. Tentu saja, mumpung liburan, anak juga kita ajak / temani untuk jalan-jalan, main musik bersama, baca buku-buku komik bersama, dan sejenisnya.

Intinya, liburan ya tetap liburan, tetapi jangan lupa untuk MEMBAGI WAKTU membuat planning dan persiapan belajar lebih awal.

Selamat menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".

-----o0o-----

Tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922. Sarjana di bidang Ilmu Alam dan Ilmu Sosial.

Menemani Anak - KREATIVITAS ITU MENGOMBINASIKAN KARYA-KARYA YANG SUDAH DIBUAT SEBELUMNYA



Di SMP Pangudi Luhur Domenico Savio Semarang, ada topik "My New Me" dalam pelajaran Bahasa Inggris kelas VIII. Murid diberi tugas untuk presentasi di depan kelas tentang "khayalan"-nya : sebagai orang lain (bukan dirinya sendiri).

Mendapat tugas seperti ini, anak saya senang sekali, karena dia memang senang "berkhayal" / menulis cerita fiksi.

Tetapi, bukan itu inti yang mau saya "sharing"-kan.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Dalam presentasi "My New Me" tanggal 22 Mei 2013 di kelasnya, anak saya juga membawakan / menyanyikan lagu ciptaannya sendiri : menyanyi dan main gitar. (Lagu ciptaannya ini dapat dilihat di artikel blog ini sebelumnya, kalau tidak salah di bulan Maret atau April 2013. Mohon maaf, video ini hanya dapat dilihat dengan personal computer / laptop / notebook. Untuk melihatnya dengan tablet / smartphone / sejenisnya, harus diinstal software sesuai jenis / merek masing-masing).

Kebetulan, memang lagu ciptaan anak saya ini (dia menciptakannya di tahun 2012, tetapi baru selesai di awal 2013) memang "nyambung" dengan isi / materi "My New Me" yang dibuat anak saya.

Anak saya dengan penuh semangat pagi ini (Kamis, 23 Mei 2013) bercerita kepada saya betapa teman-temannya dengan penuh semangat memberikan dukungan dan tepuk tangan. "Seperti pentas musik," kata anak saya. Katanya, Ms. Etna ----- guru Bahasa Inggris ----- juga berkomentar, "Ternyata di kelas ini ada satu orang artis lagi". Ditambah lagi, teman-temannya juga bertanya, "Itu lagu ciptaanmu sendiri, ya ?"

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Tentu saja kita ikut senang mendengar cerita seperti itu. Tetapi yang saya pesankan kepada anak adalah : bahwa KREATIVITAS itu adalah sebuah PROSES yang terus-menerus. Bahwa SUATU KARYA dihasilkan di masa lalu, kemudian DIGABUNGKAN dengan karya kita di masa kini, sehingga menjadi karya yang BERMUTU, dan itu ----- sekali lagi ----- tidak bisa instan.

Selamat menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".
-----o0-----

Tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922. Sarjana di bidang Ilmu Alam dan Ilmu Sosial.

Menemani Anak - MENGENALKAN "PEKERJAAN BARU"



Minggu lalu saya ngobrol dengan Mas Wawan dan Mas Kris, teman saya di Litbang (Koran) Kompas Jakarta. Mas Wawan adalah teman lama saya ketika kuliah S-1 di Undip tahun 1989-1994. Bedanya, Mas Wawan kuliah di Fisip - Komunikasi, saya kuliah di Perikanan - Akuakultur. Sudah lama kami tidak bertemu : sejak lulus tahun 1994 sampai 2013 ini.

Kami bertiga ----- Mas Wawan, Mas Kris, saya ----- ngobrol sampai pk. 01.00 dinihari. Ngobrol sana -ngobrol sini, mulai sastra, manajemen, hingga humaniora.

Kebetulan, anak saya juga bertemu dengan Mas Wawan. Kepada anak saya katakan bahwa Mas Wawan bekerja di Litbang (Koran) Kompas.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Adakalanya kita berjumpa dengan teman atau saudara yang bekerja di bidang yang "selama ini belum diketahui oleh anak kita". Kesempatan seperti ini baik untuk kita gunakan dalam rangka MENEMANI ANAK : MENGENAL PROFESI / PEKERJAAN "BARU". Jadi, anak tidak hanya tahu tentang pekerjaan dokter, insinyur, pengacara, bankir saja. Ini akan membuat anak semakin KAYA pengetahuannya tentang berbagai pekerjaan yang ada. Anak jadi bisa punya lebih banyak cita-cita tentang "kelak akan jadi apa".

Selamat menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

-----o0-----

Tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922. Sarjana di bidang Ilmu Alam dan Ilmu Sosial.

Menemani Anak - HIDUP FLEKSIBEL DALAM KETERATURAN



Dua hari terakhir ----- Minggu 19 Mei 2013 malam Senin 20 Mei 2013 dan Senin 20 Mei 2013 malam Selasa 21 Mei 2013 ----- anak saya lembur ATAS KEMAUAN SENDIRI sampai jam 04.00 pagi mengerjakan tugas-tugas sekolahnya (ngetik di notebooknya). Saya menemaninya, meskipun akhirnya ketiduran. Saya tidak melarangnya. Saya hanya berpesan, besok siang sepulang sekolah, harus menjadwalkan tidur untuk "mengganti" tidur malam yang kurang porsinya.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Saya memang selalu menemani anak untuk HIDUP TERATUR, BELAJAR TERATUR, TIDUR TERATUR (DAN CUKUP). Tetapi memang adakalanya tugas-tugas yang harus diselesaikan oleh anak memang ada FLUKTUASI bertambah banyak, sehingga harus lembur. BUKAN MENYELESAIKAN ASAL CEPAT tapi kualitas menurun. Secara nyata, ini merupakan cara melatih KETEGUHAN HATI untuk mendapatkan hasil yang TETAP terbaik.

Tentu saja, bukan maksud saya untuk MEMAKSAKAN DIRI, sebab hal ini harus DIDASARI oleh KESADARAN dari dalam diri anak sendiri. Orang tua jangan memaksakan. Orang tua hanya sebatas menemani saja. Juga membuatkan susu  coklat hangat. Juga mengingatkan anak bahwa kalau sudah selesai, supaya segera tidur (sebab besok pagi masih harus masuk sekolah).

Selamat menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

-----o0o-----

Tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922. Sarjana di bidang Ilmu Alam dan Ilmu Sosial.

Forum Tanya Jawab di Holiparent



Menanggapi banyaknya pertanyaan tentang "bagaimana caranya berkonsultasi dengan Tim Holiparent ?", dengan ini kami memberitahukan bahwa pertanyaan supaya dikirim lewat SMS ke nomor HP 081 229 255 689 atau lewat surat ke Jalan Anjasmoro V no. 24 Semarang. Jawaban akan diulas di Blog Holiparent dengan menyamarkan identitas penanya.

Terima kasih.

Menemani Anak - PADA SAAT ORANG TUA "TIDAK BISA"



Baru-baru ini Agatha, anak saya semata wayang, belajar Ekonomi untuk persiapan ulangan. Seperti biasa, saya menemani dia belajar : saya juga membaca-baca buku yang baru saya beli.

Satu dua pertanyaan yang diajukan Agatha dapat saya jawab. Jujur saja, saya bukan Sarjana Ekonomi, jadi memang saya perlu "memutar otak" juga. Nah, setelah itu muncul pertanyaan-pertanyaan berikutnya (anak saya mengambilnya dari soal-soal di buku pelajaran, dia sendiri tidak tahu jawabannya) semakin sulit (menurut saya). Maka, semakin keraslah saya "memutar otak" untuk mendapatkan jawaban dengan "logika terbaik" saya.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Apa yang saya "sharing"-kan kali ini sederhana saja : kita sebagai orang tua memang tidak serba tahu. Dan justru di saat seperti itulah kita dapat memberikan CONTOH kepada anak bahwa kita TETAP MENEMANI dan TIDAK MENYERAH begitu saja. Dalam banyak kesempatan, saya bahkan ikut MEMBACA buku pelajaran anak : mencari-cari "sisik melik" / hal-hal "tersamar" yang barangkali dapat dipakai sebagai dasar untuk "logika" mencari jawaban.

Selamat menemani anak.

Kita sebagai orang tua memang "tidak serba tahu", tetapi di saat seperti itulah kita dapat memberikan CONTOH kepada anak untuk tetap GIGIH mencari dan menemukan jawaban "dengan logika, bukan sekedar menghafal".

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".

-----o0o-----

Tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922. Sarjana di bidang Ilmu Alam dan Ilmu Sosial.

Menenami Anak - SEMUA ADALAH PEMENANG




Hari Minggu tanggal 12 Mei 2013, saya dan istri menemani anak ikut lomba Story Telling di SMK Pangudi Luhur Van Lith di Muntilan, Kabupaten Magelang. Ada dua orang murid yang ikut lomba itu mewakili SMP Pangudi Luhur Domenico Savio : Agatha, anak saya, dan Mawira, anak teman baik saya yang juga pakar public speaking dan pengembangan kepribadian Bonita D.S.

Persiapan untuk mengikuti lomba itu dilakukan dengan sangat baik. Anak-anak menghafal, berlatih, dan mengekspresikan cerita yang dibawakan dalam Bahasa Inggris dengan sungguh-sungguh. Bahkan busana pun disiapkan secara khusus untuk dapat lebih mempertajam penghayatan ketika pentas di atas panggung. Selain itu, kedua anak ini juga berkreativitas dengan membuat musik dan gambar / film sebaga back ground / iringan saat pentas.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Setelah melakukan itu semua, dan pentas yang sangat bagus, akhirnya pada saat pengumuman pemenang diperoleh hasil bahwa baik Agatha maupun Mawira tidak ada yang masuk jadi juara.

Kecewa ?

Adalah bohong kalau tidak ada rasa kecewa sedikitpun. Tetapi di sinilah orang tua dituntut untuk tetap menemani anaknya untuk BERBESAR HATI menerima kenyataan bahwa orang lain memang ada yang lebih bagus. Anak tetap diteman untuk MAMPU MENGANALISIS sebab-sebab orang lain bisa menjadi juaranya, karena dengan begitu keikutsertaan anak dalam lomba ini tidak sia-sia belaka : anak mendapatkan PENGALAMAN untuk bersaing secara JUJUR DAN TERBUKA.

Dan yang lebih penting lagi adalah ini : bahwa anak TETAP BERSYUKUR kepada Tuhan karena telah diijinkan untuk berlatih dan tampil dengan baik, mudah, dan lancar. Itu semua harus disyukuri. Jadi, anak TIDAK HANYA BERSYUKUR KETIKA MENJADI JUARA SAJA. Orang tua menemani anak untuk PERCAYA bahwa Tuhan memberikan yang TERBAIK, dan semua itu pasti ADA HIKMAHNYA (tinggal bagaimana anak kita temani untuk mengambil hikmah itu).

Berikut ini adalah video ketika Agatha pentas di loma Story Telling di SMK Pangudi Luhur Van Lith pada tanggal 12 Mei 2013. Semoga memberikan semangat bagi putra-putri  Ibu-Ibu dan Bapak-Bapam untuk berkreasi dengan sebaik-baiknya, meskipun belum bisa menjadi juara. Sebab, ketika anak sudah menampilkan yang terbaik, sesungguhnya dia sudah menjadi JUARA dalam proses PERKEMBANGAN DIRI-nya menuju pribadi yang lebih dewasa.




(Mohon maaf, video ini barangkali hanya dapat disaksikan apabila blog ini dibuka di personal computer / laptop / notebook. Apabila video ini akan dilihat dengan smartphone / tablet, bisa jadi memerlukan tambahan software sesuai spesifikasi smartphone / tablet masing-masing).

Selamat menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

-----o0o-----

Foto, video, dan tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922. Sarjana di bidang Ilmu Alam dan Ilmu Sosial.

MENEMANI ANAK - PLANNING DAN PERSIAPAN SETIAP PAGI



Dalam salah satu training untuk sebuah group perusahaan, saya berkolaborasi dengan Psikolog Probowati Tjondronegoro. Sebenarnya, materi training adalah tentang meningkatkan rasa percaya diri yang merupakan salah satu dasar untuk "public speaking" (ber-wicara di depan umum).

Tetapi karena tahu bahwa yang menjadi trainer adalah seorang Psikolog (yaitu Psikolog Probowatie dari Rumah Sakit Elisabeth Semarang), maka peserta juga memanfaatkan ini untuk konsultasi.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Salah satu hal yang disampaikan oleh Psikolog Probowatie dalam konsultasi singkat di sela-sela waktu rehat training itu adalah : perlunya orang tua melakukan "planning" di rumah untu mempersiapkan apa saja yang akan dilakukan sebelum berangkat kerja keesokan harinya. Dengan demikian, dapat dicegah (atau diminimalisir) kekacauan dan kemarahan yang muncul setiap pagi di rumah sebelum berangkat kerja. Bagi para Ibu atau Bapak yang akan berangkat ke kantor (dan masih harus menyiapkan sarapan pagi untuk anak, mengantar anak berangkat sekolah, dan sejenisnya), "planning" / persiapan seperti ini (kalau perlu, mulai dilalukan pada sore / malam hari sebelumnya) akan membuat suasana hati "tidak kacau" karena serba terburu-buru tanpa aturan. "Suasana hati yang enak" ini akan berdampak pada kinerja Ibu atau Bapak pada saat bekerja di kantor. Maksudnya begini : meskipun banyak orang (dan juga buku) yang memberikan nasihat supaya "masalah di rumah jangan dibawa ke kantor (dan sebaliknya)", namun secara "ilmu kejiawaan dan perilaku manusia" hal itu tidak mudah / tidak 100% dapat dilakukan. Sebagai manusia, pasti "akan terbawa" juga. Kalau suasana hati di rumah pagi hari sebelum "ngantor" tidak kacau (karena semua sudah di-"planning" dan dipersiapkan) maka Ibu atau Bapak pada saat mulai aktivitas di kantor / tempat bekerja juga lebih baik / lebih enak.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Satu hal mengapa "pesan" dari training tersebut saya tuliskan di sini adalah : ANAK CENDERUNG MENIRU APA YANG DILAKUKAN ORANG TUANYA. Artinya begini : kalau orang tua terbiasa melakukan "planning" dan persiapan setiap sore / malam tentang apa saja yang akan dikerjakan untuk keesokan harinya (termasuk harus bangun pagi jam berapa), maka hal ini pun akan menjadi PROSES BELAJAR SOSIAL bagi anak, bahkan sejak anak masih usia SD atau bahkan masih TK. Ini nantinya akan menjadi KEBIASAAN POSITIF bagi anak, dalam arti anak akan selalu (seperti otomatis begitu) melakukan persiapan-persiapan yang baik SECARA DETAIL agar segala sesuatunya TIDAK KACAU / TIDAK SERABUTAN.  Bagi saya sendiri, ini adalah dasar dari KEDISIPLINAN.  Orang tidak bisa / sulit untuk disiplin kalau tidak ada "planning" dan perencanaan. Padahal kita semua tahu kata-kata bijak ini : bahwa DISIPLIN ITU SANGAT PENTING dalam pengembangan diri (tentu saja, termasuk untuk anak kita).

Selamat menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

-----o0-----

Tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922.

MELEPAS FORMALITAS - MENEMANI ANAK BERKARYA KREATIF

"PUJI SYUKUR KEPADA TUHAN. TERIMA KASIH KEPADA PEMBACA SETIA. HARI INI, 8 MEI 2013, BLOG INSPIRASI PENDIDIKAN KREATIF "HOLIPARENT" GENAP BERUSIA 1 (SATU) TAHUN"




Sejenak bebas melepas formalitas, untuk mendukung kreativitas anak dalam MENGHASILKAN karya

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Ketika saya menulis artikel ini, usia saya sudah 43 tahun. Sudah tidak muda lagi. Ditambah lagi dengan rambut saya yang sudah banyak ber-uban, maka penampilan saya memang cenderung "tua dan formal", agak jauh dari kesan santai. Setidaknya, itulah penampilan saya sehari-hari, ketika harus mengikuti / mengadakan rapat, memberikan pelatihan di berbagai perusahaan, rapat dengan Bank Indonesia (saya selalu pakai jas dan dasi).

Tetapi bukan itu yang akan saya ceritakan. Dalam foto yang terpampang di awal blog edisi kali ini, saya berkacamata hitam, bermain harmonika, dan menabuh jimbi (sejenis ketupung)...mengiringi Agatha, anak saya memainkan gitar dan menyanyikan lagu ciptaannya sendiri.

Bagi Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak yang membuka blog ini dengan Personal Computer / Laptop / Notebook, dapat pula disaksikan video pendek yang dibuat (direkam) oleh Susana, istri saya, ketika Agatha dan saya "bermain musik bersama" (mohon maaf, di beberapa "gadget" seperti HP / Smartphone / BB, belum tentu video ini dapat dilihat; untuk melihatnya diperlukan software tertentu tergantung jenis masing-masing "gadget").





Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Pada saat saya menunjukkan foto / video tersebut kepada relasi bisnis, tidak sedikit dari mereka yang kaget melihat penampilan saya yang "nyentrik", tetapai setelah itu bertanya kepada saya, "Pesan apa yang mau Pak Tinus sampaikan ?"

Saya menjawabnya begini, "Bahwa meskipun kita di kantor memang harus menjaga penampilan dan serius, tetapi cobalah kita bersantai bersama anak, menemani anak berkreativitas, dan kita melakukan "refreshing" dengan penampilan yang "benar-benar beda". Percayalah, dengan itu, kita pun bisa santai, sedikit "slengekan" tetapi kreatif dalam menemani anak menghasilkan karya-karya kreatif".

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Barangkali saja ada di antara Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak yang di masa mudanya gemar menari atau menyanyi atau melukis atau bermain musik atau bermain teater atau baca puisi, semua itu bisa "diungkapkan" kembali dalam rangka menemani anak dan mendukung kreativitas anak.

Saya sendiri hanya bisa bermain harmonika, karena hanya alat musik itu yang bisa dibelikan oleh orang tua saya ketika saya masih anak-anak. Tetapi itu tidak merupakan halangan untuk menemani anak bermain gitar atau bermain piano (saya tidak bisa), karena anak juga tidak akan melecehkan kita (saya) karena tidak bisa main gitar atau piano. Anak justru merasa tersemangati, sebab meskipun ayahnya (saya) hanya bisa bermain harmonika, tetapi orang tua dengan setia menemani dan ikut TERLIBAT dalam proses kreatif yang dihasilkannya (meskipun saya hanya bermain harmonika di bagian intro / pembukaan saja).

Semoga "sharing" kali ini memberikan inspirasi bagi Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak dalam menemani anak...sekalipun (relatif) tidak bisa main alat musik (yang mahal-mahal) seperti saya.

Selamat menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

-----o0o-----

Foto dan video oleh Susana Adi Astuti.

Lirik, lagu, dan aransemen oleh Bernardine Agatha Adi Konstantia (Kelas VIII-F SMP Pangudi Luhur Domenico Savio Semarang).

Tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922.

MENEMANI ANAK - MENGATASI HAMBATAN TEKNIS


-->
 "PUJI SYUKUR KEPADA TUHAN. TERIMA KASIH KEPADA SEMUA PEMBACA SETIA. HARI INI, 8 MEI 2013, BLOG INSPIRASI PENDIDIKAN KREATIF "HOLIPARENT" GENAP BERUSIA 1 (SATU) TAHUN".


Gambar 1. Orang tua menemani anak mencetak hasil karya di salah satu Jasa Fotokopi di kawasan Jalan Arteri Sukarno-Hatta (depan kampus Universitas Semarang) di kota Semarang.

Menemani anak menghasilkan karya kreatif adalah sebuah PROSES BERKELANJUTAN. Artinya, anak bukan hanya ditemani dan didukung untuk MENGHASILKAN KARYA KREATIF, tetapi juga ditemani dan didukung untuk SECARA AJEG & BERKELANJUTAN menghasilkan karya kreatif seperti itu. Sebab, dalam proses yang ajeg dan berkelanjutan seperti itulah, anak akan BERPROSES untuk MENYEMPURNAKAN TEKNIK PEMBUATAN & HASIL karya kreatifnya.

Gambar 2. Majalah Jurnalistik "FRESH !" Tahun I Nomor 3 April 2013

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Sebagaimana telah saya "sharingkan" dalam tulisan di blog Holiparent edisi-edisi sebelumnya (tentang Majalah Jurnalistik "Fresh !" edisi perdana dan edisi kedua), anak memang perlu ditemani, didukung, dikenalkan dengan BANYAK PROSES YANG KOMPLEKS dan BEKERJA DENGAN BERBAGAI ORANG / PIHAK supaya sebuah karya seperti Majalah Jurnalistik "Fresh !" bisa "jadi" seperti yang diharapkan : dengan orang-orang di "digital printing station", dengan orang-orang di "jasa fotokopi", selain (tentu saja) anak bekerja sama dengan teman-teman dan gurunya sehingga isi / materi serta disain sampul plus iklan juga dapat tercapai sesuai target.

 

Gambar 3. Jasa fotokopi di kawasan Jalan Arteri Sukarno-Hatta (depan kampus Universitas Semarang) di Semarang.

 Gambar 4. Halaman isi Majalah Jurnalistik "Fresh" sedang difotokopi di salah satu jasa fotokopi di kawasan Jalan Arteri Sukarno-Hatta (depan kampus Universitas Semarang) di Semarang.

 Gambar 5. Berbagai peralatan yang dipakai dalam penjilidan Majalah Jurnalistis "Fresh !".

 Gambar 6. Majalah Jurnalistik "Fresh !" sedang dipotong dengan mesin pemotong kertas.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Adakalanya dalam proses yang berkelanjutan ini, anak menemuni HAMBATAN TEKNIS seperti jasa fotokopi langganan yang biasanya dipakai untuk memfotokopi & menjilid Majalah Jurnalistik "Fresh !" ternyata tutup hari itu, padahal majalah harus segera diterbitkan / didistribusikan keesokan harinya. Maka, terpaksalah menggunakan jasa fotokopi yang "baru" / belum pernah "dipakai" untuk memfotokopi dan menjilid Majalah Jurnalistik "Fresh !".

 Gambar 7. Salah satu jasa fotokopi yang dipakai untuk memfotokopi & menjilid Majalah Jurnalistik "Fresh !". Meskipun tidak biasa, tetapi karena terpaksa, maka dipilih juga untuk memfotokopi dan menjilid majalah yang harus segera terbit.

Dari kesulitan / pengalaman seperti anak, anak diajak oleh orang tuanya untuk memahami bahwa dalam mewujudkan sebuah cita-cita, bisa jadi muncul MASALAH-MASALAH TEKNIS yang tidak diduga (dalam hal ini : fotokopi yang sudah jadi langganan ternyata tutup), dan ini harus DIANTISIPASI & DIATASI SEGERA (dalam hal ini : diputuskan memakai jasa fotokopi yang baru). Tentu saja, karena belum terbiasa, ada banyak hal yang harus dijelaskan kepada jasa fotokopi baru ini, dan anak perlu diajak untuk memahami bahwa INILAH REALITANYA, bahwa INILAH PILIHAN TERBAIK yang harus segera diambil.

Selamat menemani anak.

Selamat menemani anak, bukan hanya pada tataran konsep dan ide-ide saja, bukan hanya pada tataran teknis sesuai perencanaan saja, tetapi juga pada tataran MENGATASI MASALAH TEKNIS YANG MUNCUL TIDAK TERDUGA. Anak akan belajar untuk menentukan pilihan dengan cepat di antara alternatif-alternatif "darurat" yang ada.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

-----o0o-----

Foto dan tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922.
"MENYAMBUT HARI ULANG TAHUN PERTAMA BLOG HOLIPARENT 8 MEI 2013"
Ibu Sri Hartini berfoto bersama Bapak Untung Luwarso. Beliau berdua terlihat bahagia dan menjalani hidup dengan penuh semangat.

Saya bertemu beliau berdua secara kebetulan, ketika saya sedang berada di "Cendana - Digital Printing Station" di Jalan MT Haryono 661A Semarang.  

Ibu Sri Hartini adalah pensiunan Guru Bahasa Mandarin di sekolah YSKI Jalan Tanjung Semarang. Bapak Untung Luwarso adalah seniman tulisan indah dalam Huruf Cina, dan membuka toko yang menjual karya seninya di Pasar Semawis di Kota Semarang. 

Saat ini beliau tinggal di Jalan Kuala Mas Barat VI nomor 261 Semarang, telepon 024 356 0952. Nomor HP Bapak Untung Luwarso adalah 087 775 801 135.
Sampai saat ini Ibu Sri Hartini masih memberikan kursus / les Bahasa Mandarin di rumah beliau.

 Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Perkenalan kita (orang tua) dengan orang-orang yang memiliki bermacam-macam pekerjaan / profesi seringkali terjadi di tempat yang tidak terduga dan secara tidak terduga pula. Dalam sharing kali ini, saya bertemu dengan Ibu Sri Hartini dan Bapak Untung Luwarso pada saat saya berada di "Cendana - Digital Printing Station". Pada saat bertemu dengan beliau berdua, saya langsung saja ngobrol-ngobrol berbasa-basi, tetapi kami sama-sama saling memperkenalkan diri dengan jujur, dan memanfaatkan kesempatan ini untuk saling memperkenalkan / mempromosikan usaha / kegiatan masing-masing. Dengan demikian, setiap ada kesempatan selalu dimanfaatkan untuk membentuk / memperluas "networking".

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Sebagaimana sudah saya tuliskan dalam blog-blog saya terdahulu, bahwa anak meniru apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Demikian pula dalam membentuk networking. Kalau kita sebagai orang tua selalu aktif dan tidak malu-malu membentuk "networking", maka anak pun akan memiliki keberanian untuk melakukan "networking". Tentu saja, orang tua harus selalu menemani anak-anaknya, sehingga anak tidak salah dalam memasuki "networking" (jejaring sosial).

Selamat menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

---o0o---

Foto dan tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922.