Menemani Anak - MEMAHAMI MAKNA SECARA UTUH



Hari Sabtu ini saya sedang kena flu dan ingin minum minuman hangat. Kebetulan istri sedang lembur masuk kerja (tradisi kerja di bank : kalau akhir bulan, harus kerja lembur). Maka saya mengajak anak saya yang kebetulan libur sekolah membeli kopi hangat di Mc Donald di Jalan Pandanaran Semarang (relatif dekat dengan rumah).


Sambil sarapan dan minum kopi hangat, seperti biasa anak saya dan saya ngobrol tentang apa saja yang ada di depan mata. Kali ini, tentang LARANGAN MEMBAWA MAKANAN DAN MINUMAN DARI LUAR. Sebab, sepintas lalu memang demikian. Tetapi, saya memancing pendapat anak saya untuk MENCERMATI KATA DEMI KATA : benarkah yang dilarang adalah MEMBAWA MAKANAN DAN MINUMAN DARI LUAR ? Atau, yang dilarang adalah MEMAKAN / MEMINUM MAKANAN / MINUMAN DARI LUAR ?

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Sharing kali ini adalah tentang menemani anak untuk MENCERMATI apa yang tertulis dan MEMAHAMI SECARA UTUH makna dari tulisan itu.

Saya mengaitkan ini dengan pengalaman yang saya alami beberapa hari yang lalu. Saya sedang berdiskusi dengan seseorang yang dalam penilaian saya ahli di bidangnya. Tetapi, kemudian penilaian saya tentang ke-ahli-annya MENURUN gara-gara dia TIDAK CERMAT dalam membaca dan TIDAK SECARA UTUH MEMAHAMI apa yang tertulis dalam sebuah Undang-Undang yang sedang kami diskusikan.

Ibu-Ibu dan Bapak -Bapak Yth.,

Semog dengan menemani anak (sejak masih SD atau SMP) untuk MENCERMATI dan MEMAHAMI SECARA UTUH aturan-aturan yang dihadapi oleh anak dalam kehidupan sehari-hari, maka anak menjadi TERLATIH dan TERBIASA untuk TIDAK SEMBRONO mengartikan segala sesuatu ( yang akan dibawa sampai ketika dia dewasa kelak).

Selamat menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

-----o0o-----

Foto dan tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922. Sarjana di bidang Ilmu Alam dan Ilmu Sosial.

Menemani Anak SAMBIL NONGKRONG MELEPAS STRES




Liburan sekolah kali ini keponakan saya yang tinggal dan bersekolah di Kupang (Nusa Tenggara Timur) datang ke Semarang. Dia baru mau masuk kelas 1 Sekolah Dasar. Namanya Novena.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Adakalanya saya menulis di blog ini lebih karena ingin membagikan perasaan senang yang dapat diperoleh dengan (relatif) murah meriah. Seperti tulisan kali ini, misalnya.

Keponakan saya senang sekali karena diajak jalan-jalan di kawasan Jalan Pahlawan Semarang. Di kawasan dekat Simpang Lima ini, ada banyak sekali persewaan mainan anak-anak. Juga ada penjual jagung rebus plus kacang kedelai, kacang kulit, bakso, juga wedang ronde.




Malam itu saya ngobrol dengan Mas Anis yang menyewakan 11 unit mainan anak-anak. Pria yang tinggal di Jalan Pekunden Semarang ini membawa kesebelas unit mainan sewaannya menggunakan becak langganannya. Setiap malam, sepulang dari Jalan Pahlawan, Mas Anis harus menyetrum accu mobil / sepeda motor mainan selama 6 jam (supaya keesokan sorenya dapat disewakan selama 2 jam sampai listrik accunya habis). Biaya sewa mainan yang tidak memakai accu adalah Rp 15.000 per 30 menit, sedangkan mainan yang memakai accu adalah Rp 25.000 per 30 menit.



Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Bernardine Agatha Adi Konstantia, anak saya yang naik ke kelas IX SMP Pangudi Luhur Domenico Savio bertanya kepada saya, "Mengapa orang-orang suka nongkrong seperti di Jalan Pahlawan di malam hari ?"



Ini pertanyaan yang bagus, dan saya menjawabnya begini, "Karena manusia mendapatkan ENERGI ketika bertemu dengan orang lain". Ya, manusia adalah MAKHLUK SOSIAL. BERTEMU dengan orang lain akan terasa MENYENANGKAN. Dan di tempat persewaan mainan anak-anak seperti di Jalan Pahlawan ini, RASA BAHAGIA dari sekian banyak orang tua yang menemani anak-anaknya bermain, juga rasa senang dari anak-anak itu, akan MENULAR di antara sekian banyak orang tua yang ada di sana.

Selamat menemani anak.

Selamat menemani anak sambil IKUT MERASA SENANG dan MENGHILANGKAN STRES secara murah meriah.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

-----o0o-----

Foto dan tulusan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922. Sarjana di bidang Ilmu Alam dan Ilmu Sosial.

Menemani Anak : BELAJAR DI JATENG FAIR 2013



Kira-kira setahun yang lalu, blog inspirasi pendidikan kreatif HOLIPARENT ini memuat tulisan saya tentang PRPP (JATENG FAIR). Kali ini pun sama. Saya memang selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi kegiatan tahunan ini sejak saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar di tahun 1970-an. Di tahun 1970-an itu, namanya masih SEMARANG FAIR, diadakan di kompleks THR (Taman Hiburan Rakyat) Tegalwareng di Jalan Sriwijaya Semarang (sekarang menjadi Tempat Mainan Anak-Anak WONDERIA dan juga TAMAN BIDAYA RADEN SALEH (TBRS)).

Setelah itu, SEMARANG FAIR berganti nama menjadi PRPS (PEKAN RAYA PROMOSI SEMARANG), sekitar tahun 1980-an.

Tahun 1990-an, pindah tempat ke lokasi sekarang di dekat Pantai Marina Semarang. Namanya menjadi PRPP (PEKAN RAYA PROMOSI & PEMBANGUANAN) JATENG. Baru pada tahun-tahun terakhir ini berubah menjadi JATENG FAIR.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Saya yang asli orang Semarang, dan yang setiap tahun mengunjungi kegiatan ini, melihat bahwa mengajak anak untuk berkunjung ke JATENG FAIR memiliki FAEDAH untuk menambah PENGETAHUAN anak kita. Meskipun, apa yang dilihat anak kita di JATENG FAIR masih sebatas PROMOSI / PERKENALAN saja. Misalnya, tentang PERPUSTAKAAN WILAYAH JAWA TENGAH.


Ibu Wahyuni dari Perpustakaan Wilayah Jawa Tengah

Hari itu, Minggu tanggal 23 Juni 2013, saya bersama dengan anak dan istri disambut dengan ramah oleh Ibu Wahyuni yang bertugas di stand pameran Badan Arsip dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah. Khusus untuk Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah yang beralamatkan di Jalan Sriwijaya 29 Semarang ini, saya baru tahu kalau sekarang dijadikan satu dengan Badan Arsip Provinsi Jawa Tengah. Di tahun 1980-an, namanya masih PERWIL, singkatan dari Perpustakaan Wilayah Jawa Tengah. Setelah itu, di tahun awal tahun 2000-an menjadi PERPUSDA, singkatan dari Perpustakaan Daerah Jawa Tengah. Pada saat saya (dan pacar saya saat itu, yang sekarang menjadi istri saya) mesih kuliah S-1 di Perikanan UNDIP, kami sering meminjam buku-buku untuk referensi kuliah di PERWIL. Salah satu buku favorit (yang saya pinjam berkali-kali, sampai hafal) berjudul SEJARAH BERHITUNG tulisan Profesor Andi Hakim Nasution.

Ibu Wahyuni dengan penuh semangat menjelaskan tentang buku apa saja yang sekarang ini menjadi koleksi Perpustakaan Wilayah Jawa Tengah, dan juga kegiatan-kegiatan yang diadakan untuk selalu memasyarakatkan kegiatan membaca di kalangan masyarakat.




Stand Badan Arsip dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah di JATENG FAIR 2013

 Bapak Subandi, seniman batik kayu dan topeng dari Borobudur

Ada juga stand seni rupa yang dijaga oleh Bapak Subandi. Beliau adalah seorang seniman yang sehari-hari menjual hasil karyanya di kawasan Candi Borobudur di Magelang.


Bapak Subandi yang beralamatkan di Desa Ngaran II RT 02 RW 06 Borobudur Magelang ini dapat dihubungi lewat telepon di nomor 0817 940 5976. Bapak Subandi membuat kerajinan kayu batik dan juga bermacam-macam topeng kayu.


Macam-macam topeng tari terbuat dari kayu karya Bapak Subandi.


Kepada Bernardine Agatha Adi Konstantia (siswi SMP Pangudi Luhur Domenico Savio) yang berkunjung ke stand ini, Bapak Subandi menjelaskan dengan penuh semangat tentang wisata di Candi Borobudur yang saat ini sudah dilengkapi dengan fasilitas persewaan sepeda yang dapat dipakai oleh wisatawan untuk berkeliling ke desa-desa di sekitar Candi Borobudur. "Jadi, sambil berwisata juga bisa sekaligus berolah raga sepeda," kata Bapak Subandi.

Dulunya, Bapak Subandi hanya membuat topeng-topeng untuk menari dari kayu dengan model yang tradisional. Seiring dengan perkembangan zaman, Bapak Subandi sekarang ini juga membuat topeng-topeng dari karu dengan model-model yang modern dan dihiasi dengan motof batik. Bapak Subandi menyebutnya BATIK KAYU. "Dengan batik kayu, maka hasil karya menjadi lebih bervariasi dan diminati wisatawan dari luar negeri maupun dari dalam negeri," Bapak Subandi menjelaskan.

Bapak Subandi juga mengatakan bahwa usaha dan stand pameran ini didukung oleh PT Taman Wisata Candi Borobudur dan Candi Prambanan. PT Taman Wisata Candi Borobudur dan Candi Prambanan ini mengelola Wisata Candi Borobudur, Candi Prambanan, juga Candi Ratu Boko (di dekat Candi Prambanan).

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Sampai di sini tulisan kali ini. Besok, akan ada tulisan lanjutan tentang menemani anak menambah pengetahuan dengan mengunjungi JATENG FAIR.

Selamat menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

-----o0o-----

Foto dan tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922. Sarjana di bidang Ilmu Alam dan Ilmu Sosial.

Menemani Anak : MENONTON PENTAS TEATER KOMA



Tiba-tiba saja istri saya dan adiknya begitu bersemangat di hari Minggu sore ini (23 Juni 2013) : MAU MENONTON PENTAS TEATER KOMA. Judulnya : SAMPEK ENGTAY.

Agatha (anak saya) dan saya tentu saja jadi ikut nonton. Meskipun cerita Sampek Engtay boleh dibilang sudah "hafal di luar kepala" (saya bahkan pernah menulis skenarionya untuk pentas ketika saya masih sekolah di SMA Kolese Loyola untuk pentas teater di SMA), selalu saja ada yang menarik DARI SETIAP PENTAS TEATER. Apalagi, kalau yang main teater hebat sekelas TEATER KOMA !


Di sela-sela pentas, saya mengobrol dengan Pak Vidi, Guru Bahasa Indonesia di SMP Pangudi Luhur Domenico Savio Semarang, yang juga menonton pentas Teater Koma ini.

Seperti biasa, setiap kali saya mengobrol dengan para Guru Bahasa Indonesia, saya masih saja menyuarakan pendapat saya yang satu ini : BAHASA INDONESIA (DENGAN SEGALA APLIKASINYA) SANGAT SANGAT SANGAT PENTING dikuasai dengan baik oleh para murid. Entah itu masih di SD. Entah itu masih di SMP. Atau di SMA (atau yang sederajat). Bahkan ketika sudah kuliah di Perguruan Tinggi / Universitas.

Mengapa ?

Karena TIDAK DIKUASAINYA BAHASA INDONESIA (DENGAN SEGALA APLIKASINYA) membawa AKIBAT BURUK bagi orang itu sendiri, orang lain, atau kombinasi keduanya DI DUNIA KERJA.

Pilihan DIKSI dan GAYA BAHASA yang salah bisa bikin SAKIT HATI dan bahkan SALAH PANDANG / SALAH PERSEPSI pihak lain yang bisa BERAKIBAT FATAL di dunia bisnis.

Penulisan SURAT-SURAT RESMI yang tidak sesuai dengan EYD (EJAAN YANG DISEMPURNAKAN) memunculkan CITRA TIDAK CERDAS dan bahkan CEROBOH bagi penulisnya.

Belum lagi apa yang saya sebut di dalam blog kali ini dengan APLIKASI dari Bahasa Indonesia : termasuk di dalamnya adalah BERBICARA DI DEPAN PUBLIK, NEGOSIASI, DISKUSI, dan BERDEBAT yang santun dengan tujuan mengasah LOGIKA BERPIKIR. Semuanya itu perlu BAHASA INDONESIA yang dikuasai dengan baik.

Apa yang mau saya katakan sebenarnya adalah ini : bahwa BAHASA INDONESIA itu SAMA PENTINGNYA dengan MATEMATIKA dan IPA !


Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Setelah mengobrol dengan Pak Vidi di saat jeda pentas Teater Koma yang berjudul SAMPEK ENGTAY, saya kembali masuk ke dalam gedung pentas bersama anak saya : menyaksikan kelanjutan pentas, menikmati VARIASI-VARIASI KREATIF yang membuat kisah Sampek Engtay ini menjadi tetap segar untuk dinikmati.

Sambil menonton, saya masih juga mengobrol (bisik-bisik, supaya tidak dimarahi oleh penonton di sebelah kami) tentang BETAPA SERIUSNYA mereka MEMPERSIAPKAN MUSIK, PAKAIAN PENTAS, PANGGUNG, TATA LAMPU, dan tentu saja PARA PEMAINNYA. Saya mengajak anak untuk MENGAPRESIASI BAGIAN DEMI BAGIAN, selain menikmati pentas SECARA KESELURUHANNYA. Harapan saya, anak menjadi bisa MERASAKAN bahwa HASIL YANG BAIK / ENAK DINIKMATI itu selalu TERDIRI dari BAGIAN-BAGIAN yang secara DETAIL memang DISIAPKAN dengan BAIK juga.


Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Saya menutup blok edisi kali ini dengan suatu AJAKAN terang-terangan : silakan mengajak anak dan keluarga untuk MENONTON PENTAS TEATER sesekali. Silakan MENIKMATI dan MENGAPRESIASI baik pentas secara KESELURUHAN maupun BAGIAN per BAGIAN. Semoga dengan demikian anak dapat MERASAKAN bagaimana KREATIVITAS itu BERPROSES dan disusun SATU DEMI SATU.

Selamat menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"


-----o0o-----

Foto dan tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922. Sarjana di bidang Ilmu Alam dan Ilmu Sosial. Mantan pemain Teater APILOCO di SMA Kolese Loyola 1986-1989 dan mantan murid Kelas Teater di SMA Kolese Loyola tahun 1986-1988.

Menemani Anak : RANKING DI KELAS, PERLUKAH ?




Sabtu pagi, sekitar pk. 08.30 WIB. Ibu Monica Etnawati, S.Pd, Guru Wali Kelas VIII-F SMP Pangudi Luhur Domenico Savio yang akan membagikan rapor kenaikan kelas memberikan pengantar singkat di hadapan para orang tua / walu murid yang akan mengbil rapor anaknya.

Ada dua hal dalam pesan singkat Ibu Etnawati yang saya tangkap, dan saya tuliskan dalam blog ini sebagai bahan renungan kita semua (di manapun anak kita bersekolah).



PERTAMA, bahwa RANKING DI KELAS TIDAK DITULISKAN. Ibu Etnawati menekankan bahwa yang penting untuk diperhatikan adalah apakah nilai anak DI ATAS NILAI KKM atau tidak, dan apakah nilai anak di atas NILAI RATA-RATA KELAS atau tidak. Artinya begini : kalau nilai anak di atas nilai KKM, berarti anak sudah TUNTAS menangk materi yang diajarkan. Sedangkan terkait dengan Nilai Rata-Rata Kelas, maknanya adalah : bagaimana penguasaan materi oleh anak "dibandingkan" dengan penguasaam materi oleh teman-teman sekelasnya.




KEDUA, Ibu Etnawati juga mengatakan bahwa anak yang sudah MEWAKILI SEKOLAH mengikuti perlombaan / pertandingan antar sekolah berarti sudah MEMILIKI PRESTASI karena sudah bisa lolos seleksi di sekolah. MENANG ATAU TIDAK MENANG, itu adalah prestasi yang lain lagi.



Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Apa yang dikatakan oleh Ibu Etnawati sengaja saya tuliskan di sini karena SESUAI DENGAN MISI blog Holiparent ini : bahwa PRESTASI itu jangan hanya diukur dari RANKING DI KELAS saja atau dari MENANG LOMBA saja. Tetapi yang lebih penting adalah MEMAKNAI PROSES untuk menguasai materi pelajaran yang diajarkan (dalam hal nilai rapor) dan belajar memiliki JIWA KSATRIA dalam bertanding / berlomba (entah jadi pemenang entah tidak).

Ibu Etnawati juga mengatakan bahwa ANAK YANG PINTAR adalah anak yang bisa MENGUASAI BANYAK BIDANG, bukan hanya pelajaran tertentu saja, tetapi SEMUA BIDANG SECARA MERATA.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Bukan berarti saya tidak mendukung anak untuk menjadi juara / ranking satu di kelas / pertandingan / perlombaan, tetapi bahwa MEMAKMAI PROSES itu lebih penting.

Selamat menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

-----o0o-----

Foto dan tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922. Sarjana di bidang Ilmu Alam dan Ilmu Sosial.

Sisipan : Paimin 3000 dengan tema IJAZAH FORMALITAS




Fenomena IJAZAH FORMALITAS sekarang ini semakin banyak saya temui. Apa itu IJAZAH FORMALITAS ? 

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Silakan mampir di blog saudara HOLIPARENT.BLOGSPOT.COM yaitu di PAIMIN3000.BLOGSPOT.COM edisi Sabtu tanggal 22 Juni 2013.

Caranya MUDAH : tinggal KLIK tulisan PAIMIN3000 di pojok KANAN ATAS pada blog Holiparent ini.

Semoga dengan demikian, anak-anak kita nantinya tidak termasuk dalam para pemegang IJAZAH FORMALITAS ini....

Selamat menemani anak....

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

-----o0o-----

Kartun dan tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922. Sarjana di bidang Ilmu Alam dan Ilmu Sosial.

Menemani Anak : MENGAMATI MATAHARI




Minggu 9 Juni 2013 pk. 06.30 WIB.

Anak saya semata wayang sedang minta ditemani melukis awan di kawasan Jalan Sriwijaya - Jalan Singosari Semarang pagi itu, ketika tiba-tiba saja dia berkata, "Pah, itu apa ya ?"

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Saya melihat ke arah yang ditunjukkan anak saya. MATAHARI ! Ya... Ada MATAHARI dengan penampilan yang luar biasa.

Saya pun memotretnya dengan kamera yang saya bawa saat itu (Kodak Easyshare yang sudah menemani saya sejak tahun 2007 atau 2008. Sudah cukup berumur tapi masih setia).




Anak saya senang sekali. Kebetulan saat itu kegiatan melukis awannya sudah selesai. Maka, kami pun ngobrol tentang AWAN, tentang MATAHARI, dan hal-hal yang terkait dengan itu sambil saya MEMOTRET apa yang menjadi fokus perhatian anak : MATAHARI.


Gambar atas : Sketsa Leonardo da Vinci tentang "alur sungai" dibandingkan dengan "alur rambut manusia" yang dibuat berdasarkan PENGAMATAN Leonardo da Vinci. Sketsa dibuat sekitar tahun 1513.

Gambar bawah : Sketsa Leonardo da Vinci tentang "perpotongan dua gelombang di permukaan air". Sketsa ini juga dibuat berdasarkan PENGAMATAN Leonardo da Vinci yang kemudian digambarnya.

Leonardo da Vinci memang memiliki bakat MENGGAMBAR yang baik. Bakat ini DIKEMBANGKANNYA dengan belajar pada guru-guru MENGGAMBAR / MELUKIS, dan secara praktis DIGUNAKAN oleh Leonardo da Vinci untuk MEMBUAT ILUSTRASI catatan-catatan ilmiahnya (yang dibuat berdasarkan PENGAMATAN yang SISTEMATIS dan TERUS-MENERUS / secara MENDALAM).



Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Mengajak anak MENGAMATI LINGKUNGAN ALAM SEKITAR untuk menambah pengetahuan sebenarnya sudah dirintis oleh Leonardo da Vinci, yang lebih kita kenal sebagai seorang PELUKIS karena lukisannya yang terkenal yang berjudul MONALISA, padahal beliau adalah seorang ILMUWAN DAN INSINYUR yang memanfaatkan BAKAT MELUKISNYA untuk melengkapi BUKU CATATAN atas hasil PENGAMATANNYA. Pengamatan Leonardo da Vinci terhadap SUNGAI, GELOMBANG AIR, dan masih banyak lagi dilakukan secara TERUS-MENERUS kemudian DICATAT dan DILUKISNYA.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Sudah diakui oleh dunia bahwa metode Leonardo da Vinci yaitu MENGAMATI SECARA SISTEMATIS kemudian mencatatnya disertai dengan gambar-gambar telah membuka ERA BARU yaitu MEN-SHARING-KAN ilmu dan pengetahuan secara lebih terbuka dan MENARIK.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Memang di zaman sekarang ini sudah ada sekian banyak buku, juga internet yang dengan mudah dapat DIGUNAKAN OLEH ANAK untuk menambah pengetahuannya. Tetapi apakah anak kita memang hanya akan kita dorong menjadi KONSUMEN SAJA ? Mengapa amak kita tidak kita temani untuk juga menjadi PRODUSEN dengan MENGAMATI ALAM SECARA LANGSUNG kemudian MEMOTRETNYA dan MENCATATNYA dalam rupa buku atau blog (weblog) sehingga anak juga ikut MEMBERIKAN SUMBANGAN pada buku-buku bacaan ataupun tulisan di internet, sehingga POLA PIKIR DAN PERILAKU PRODUKTIF itu bisa terpupuk sejak masih usia SD atau SMP (SMA juga boleh) ?

Selamat menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

-----o0o-----

Foto dan tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922. Sarjana di bidang Ilmu Alam dan Ilmu Sosial.

Menemani Anak : MENIKMATI PELANGI DI PAGI HARI



Kamis pagi tanggal 20 Juni 2013 sekitar pk. 06.30. WIB Seperti biasa, saya bersama istri mengantar anak berangkat sekolah. Ya, meskipun di sekolahnya (SMP Pangudi Luhur Domenico Savio Semarang) hari-hari ini adalah hari-hari "Masa Jeda" (istilah yang dipakai oleh pihak sekolah untuk menggambarkan hari-hari setelah selesai Ulangan Umum Kenaikan Kelas sampai dengan pembagian rapor kenaikan kelas), anak saya tetap saja dengan penuh semangat berangkat ke sekolah tepat waktu karena dia bisa melakukan hobinya : memotret dan mem-video-kan kegiatan berbagai pertandingan olah raga dan juga seni antar kelas.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Kondisi tersebut di atas saya ceritakan untuk menggambarkan bahwa saat itu kami bertiga (saya, anak, dan istri) sedang mengobrol dengan penuh semangat ketika tiba-tiba saja anak saya berteriak dengan penuh semangat, "PELANGI ! Ada PELANGI !"

Saya dan istri segera melihat ke langit, mencari-cari : di mana ada PELANGI. Dan...memang PELANGI itu ada di sana !

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Kebetulan saat itu mobil yang saya kemudikan sedang berhenti di "traffic light" (yang sedang berwarna merah). Saya pun segera mengeluarkan "handphone" yang ada kameranya (saat itu saya membawa Nokia Lumia 900) memotret PELANGI itu.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Melihat PELANGI, memotret PELANGI, sebenarnya adalah hal yang sederhana saja. Tetapi di sini saya sengaja men-sharing-kan pengalaman yang sederhana ini : bahwa anak saya sempat berkata bahwa dia senang bisa melihat PELANGI pagi itu. Dan bahwa dia senang juga karena di-potret-kan PELANGI oleh saya. 

Bersama anak, saya juga mengamati bahwa PELANGI itu bentuknya melengkung dan warna MERAH terletak di bagian ATAS, sedangkan warna UNGI terletak di bagian BAWAH. 

Anak saya juga memperhatikan (tepatnya : mencocokkan) bahwa warna PELANGI memang MERAH - JINGGA - KUNING - HIJAU - BIRU - NILA - UNGU (warna ini seperti sudah saya sebutkan di atas : terletak dari ATAS ke BAWAH).

Jadi, untuk bisa merasa SENANG bersama-sama itu sebenarnya SEDERHANA saja : perhatikanlah dan nikmatilah HAL-HAL KECIL yang memang MENARIK PERHATIAN anak. 

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Saya sengaja menampilkan foto PELANGI yang saya potret pada hari Kamis pagi tanggal 06.30 WIB pada blog kali ini. Semoga KESEDERHANAAN foto ini dapat MENULARKAN rasa senang kepada Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth., dengan diiringi ajakan : mari kita bersenang-senang bersama anak dengan melakukan menikmati hal-hal yang sederhana. Misalnya, dengan menikmati PELANGI (kalau kebetulan sedang terlihat di depan mata kita).

Selamat menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"


-----o0o-----


Foto dan tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922. Sarjana di bidang Ilmu Alam dan di bidang Ilmu Sosial.

Menemani Anak dengan MEMBERI CONTOH NYATA





Biasanya, di sela-sela kegiatan kuliah, saya menyempatkan diri berkirim SMS kepada anak. Pertama,  tentu ingin tahu : anak saya sedang apa. Kedua, hal ini akan membuat anak lebih bersemangat sekolah karena ayahnya yang sudah tua pun masih semangat sekolah (kuliah).

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Ide dasar yang diusung ketika saya pertama kali membuat blog inspirasi pendidikan kreatif ini adalah MENEMANI ANAK. Artinya, dalam kegiatan APAPUN sehari-hari, orang tua selalu memanfaatkan itu untuk dapat menemani anak : mungkin dengan membuat kerajinan tangan bersama anak, mungkin dengan mendongeng untuk anak, dan sebagainya.

Apa yang saya tuliskan kali ini menceritakan pengalaman saya : bahwa ada kalanya kita TERPAKSA tidak dapat menemani anak SECARA FISIK, tetapi seperti kata pepatah : JAUH DI MATA, DEKAT DI HATI.

Jujur saja, masih kuliah di saat usia sudah 40-an memang ada suka duka tersendiri. Tetapi, hal ini juga dapat membuat anak lebih bersemangat dalam bersekolah / belajar karena orang tua MEMBERIKAN CONTOH NYATA bahwa masih kuliah, masih membuat PR (pekerjaan rumah), masih membuat ringkasan di rumah.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Tentu saja, ketika kita selaku orang tua sedang memberikan contoh dengan MENJALANI / MELAKUKAN suatu pekerjaan / kegiatan, kita harus MENJAGA DIRI supaya tidak mengeluh, tidak mengomel, tidak malas-malasan, dan sejenisnya. Mengapa ? Karena hal ini akan DICONTOH JUGA oleh anak.

Sebagai contoh : sebagai mahasiswa yang sudah "berumur", saya masih LEMBUR mengerjakan Tugas / Pekerjaan Rumah yang diberikan oleh Dosen. DENGAN PENUH SEMANGAT. TANPA MENGELUH. SELALU CERIA.

Dengan demikian anak juga akan melihat PERILAKU kita (orang tua). Apabila dalam hal kuliah kita banyak mengeluh / bermalas-malasan, tentu saja kita tidak bisa melarang anak untuk tidak mengeluh / bermalas-malasan dalam hal bersekolah, bukan?

Selamat menemani anak.

Selamat menjadi CONTOH yang baik untuk anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".


-----o0o-----

Foto dan tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922. Sarjana di bidang Ilmu Alam dan di bidang Ilmu Sosial.

Menemani Anak Mengamati Lingkungan Sekitar - MENGAMATI BANJIR



Hari Minggu malam 16 Juni 2013, saya bersama anak dan istri sedang minum susu sapi murni di warung langganan di dekat rumah Jalan Anjasmoro Semarang, ketika hujan tiba-tiba saja turun dengan derasnya.

Sambil menikmati susu sapi segar yang dicampur coklat, saya menemani anak untuk MENGAMATI bagaimana air hujan yang jatuh ke tanah dengan segera (kurang lebih 15 menit) telah menyebabkan banjir kurang lebih 20 cm tingginya (di beberapa bagian jalan, sampai 30 cm).



Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Saya tidak bermaksud mengajak Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak berhujan-hujanan dengan anak untuk mengamati banjir. Tetapi saya mengajak Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak untuk MEMANFAATKAN MOMEN APAPUN untuk menemani anak, sehingga anak memiliki PENGALAMAN PRIBADI YANG NYATA tentang lingkungan di sekitarnya.

Selamat menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

-----o0o-----

Foto dan tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922. Sarjana di bidang Ilmu Alam dan Ilmu Sosial.

Misi Sosial SMP SANTO BELLARMINUS Semarang



Minggu pagi ini (9 Juni 2013) saya ke SMP Santo Bellarminus Semarang. Sekolah yang beralamatkan di Jalan Tegalsari VIII Semarang ini memang mempunyai misi mendidik para murid yang tidak tertampung di sekolah lain (termasuk saya di tahun 1983. Saya lulus dari sekolah ini tahun 1986).

Saya berbincang-bincang dengan Bapak Herman Yosef Sugiyanto, S.Pd, Kepala SMP Santo Bellarminus sekaligus Guru Pelajaran PKN di sekolah ini.

"Saya bersyukur ada banyak pihak yang membantu biaya pendidikan murid-murid di sekolah ini, karena pada umumnya mereka berasal dari keluarga ekonomi lemah," kata Bapak Sugiyanto.

Di tahun ajaran 2013/2014 ini, sudah ada 226 pendaftar di SMP Santo Bellarminus. Minat yang besar ini utamanya disebabkan oleh biaya pendidikan yang murah, Rp 110.000 per bulan. "Itupun, banyak murid yang dicarikan beasiswa oleh pihak sekolah, supaya mereka lebih ringan dalam membayar biaya pendidikan bahkan kalau bisa memang gratis," jelas Bapak Sugiyanto lebih lanjut.

Selama ini, SMP yang memiliki guru 15 orang dan 8 orang di antaranya merupakan Guru PNS, mendapatkan bantuan dari pihak Pemerintah melalui Dinas Pendidikan maupun dari berbagai pihak swasta. Namun demikian, sejalan dengan banyaknya murid dari golongan ekonomi lemah, kebutuhan akan bantuan dana / beasiswa dari berbagai pihak juga semakin meningkat.

"Ada banyak sekali murid-murid yang betul-betul membutuhkan bantuan dana untuk sekolah / beasiswa. Uluran tangan dari para donatur akan diterima dengan senang hati," kata Bapak Sugiyanto.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Apa yang saya ceritakan kali ini adalah renungan kita bersama. Ada sekian banyak anak yang masih membutuhkan biaya pendidikan. Dan tentu, itu tidak hanya di SMP Santo Bellarminus saja.

Semoga tulisan kali ini mengusik hati nurani kita semua. Sambil selalu menemani anak-anak kita, ada baiknya kita juga mengingat sekian banyak anak yang nasibnya kurang beruntung. Lagi pula, dengan ikut membantu anak-anak ini, kita juga sudah menanamkan nilai-nilai luhur di dalam diri anak-anak kita : tentang perlunya saling membantu dalam kehidupan ini.

Selamat menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

-----o0o-----

Foto oleh Susana Adi Astuti.

Tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922. Sarjana di bidang Ilmu Alam dan Ilmu Sosial.




Menemani Anak - CERITA NYATA TENTANG BERJUALAN DENGAN KESUNGGUHAN HATI



Spesial Nasi Belut "Pesek Sari" namanya. Warung tenda di pinggir Jalan Sompok, tepatnya di depan rumah Jalan Sompok 75 Semarang atau di dekat kantor perwakilan koran "Bisnis Indonesia" Semarang itu selalu saja ramai pembeli. Sejak pagi sekitar jam 07.00 sampai siang hari, terutama pada saat jam istirahat makan siang.



Ibu Sukini, pemilik warung ini, selalu sigap melayani pembeli dengan ramah. Ditemani  oleh 2 (dua) orang tenaga kerja yang membantunya, layanan di warung makan tenda ini memang cepat dan pembeli tidak perlu antre berlama-lama.

Warung nasi belut "Pesek Sari" ini buka hari Senin sampai Sabtu, dan tutup di hari Minggu. Saya sendiri dan istri saya sudah cukup lama menjadi langganan di warung ini. Biasanya, saya dan istri sarapan setiap Sabtu pagi. Kalau makan siang, saya lebih sering ke warung nasi belut "Pesek Sari" dengan teman-teman kantor.


Tentu saja, sebenarnya warung nasi belut "Pesek Sari" juga menyediakan aneka macam lauk lainnya : udang goreng, kerang goreng, dan masih banyak lagi. Rasanya memang enak dan harganya terjangkau untuk semua lapisan masyarakat. Karena itu, sekali lagi, langganannya banyak sekali.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Saya tentu saja tidak sekedar menceritakan tentang warung nasi belut "Pesek Sari" tanpa tujuan khusus yang dapat di-sharing-kan kepada anak kita.

Saya juga mengajak anak ke warung nasi belut "Pesek Sari" ini. Sambil makan, saya, istri, dan anak ngobrol tentang NILAI LEBIH APA yang dimiliki oleh warung nasi belut "Pesek Sari" ini sehingga pelanggannya begitu banyak dan juga setia (untuk selalu kembali membeli makanan di warung ini).

Kepada anak, setidaknya dapat diceritakan hal-hal ini kepada anak (dari obrolan tentang warung nasi belut "Pesek Sari") :
  1. Pemilik warung dan penjualnya selalu RAMAH dan CEKATAN dalam melayani pembeli. Ini menunjukkan bahwa mereka bekerja BUKAN KARENA TERPAKSA, tetapi dengan KESUNGGUHAN HATI melayani pembeli / pelanggan.
  2. Warung nasi belut "Pesek Sari" masakannya ENAK dan disajikan dengan BERSIH dan RAPI (meskipun merupakan warung makan tenda). Artinya, pembeli / pelanggan merasa bahwa apa yang dibelinya memang memiliki KUALITAS YANG BAIK. Tentu saja, ini juga merupakan WUJUD NYATA dari pemilik warung dalam mengelola warung makan ini dengan KESUNGGUHAN HATI.
  3. Warung nasi belut "Pesek Sari" ini SECARA RUTIN buka setiap Senin sampai Sabtu. Artinya, tidak pernah warung nasi ini TIBA-TIBA TUTUP sehingga mengecewakan pelanggan / pembeli yang datang. (Saya menemui beberapa warung lain yang HOBI TUTUP TIBA-TIBA dan SERINGKALI BEGITU. Lambat laun pelanggan / pembeli (termasuk saya) jadi enggan ke warung yang berkali-kali tutup secara tidak teratur seperti ini).
Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,

Dari pengalaman-pengalaman praktis seperti ini, bahkan sambil anak kita ajak makan dan memperoleh PENGALAMAN di warung nasi belut YANG BAGUS seperti "Pesek Sari" ini, anak dapat kita temani untuk MEMAHAMI bahwa KESUNGGUHAN dalam bekerja memang merupakan hal yang PENTING. Dengan demikian, sejak usia dini NILAI-NILAI POSITIF seperti ini sudah tertanam di dalam diri anak kita.

Selamat menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa".

-----o0o-----

Foto dan tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922. Sarjana di bidang Ilmu Alam dan Ilmu Sosial.

Pemberitahuan : Blog Baru tentang PSIKOLOGI APLIKATIF & INTEGRATIF untuk DUNIA KERJA




PAIMIN3000 dapat dibuka lewat http://www.PAIMIN3000.blogspot.com

PAIMIN adalah singkatan dari PSIKOLOGI AKTUAL & INTEGRATIF untuk MEMBANGUN INDUSTRI & NASIONALISME.

AKTUAL artinya bahwa materi dari blog PAIMIN3000 memang berdasarkan FAKTA yang ada dalam DUNIA KERJA SEHARI-HARI.

INTEGRATIF artinya bahwa materi dari blog PAIMIN3000 DIRAMU dengan ILMU HUKUM dan ILMU MANAJEMEN serta prinsip-prinsip ENGINEERING / KEREKAYASAAN (dalam arti positif, yaitu MEMBANGUN atau MEMPERBAIKI sehingga sesuatu yang RUSAK / BELUM IDEAL menjadi BAIK / IDEAL secara TEKNIK OPERASIONAL).

3000 melambangkan MILENIUM KE-4 yang dimulai tahun 3000. Ini memberikan lambang bahwa PAIMIN3000 ingin MENGAJAK semua pihak untuk selalu BERPIKIR JAUH KE DEPAN, bukan hanya JANGKA PENDEK semata,

From PAIMIN untuk INDONESIA ! 

Menemani Anak - Cerita tentang Penjual yang Selalu Ceria



Hari ini, Kamis tanggal 6 Juni 2013, adalah hari libur. Mengisi hari libur, saya beserta anak dan istri sekedar jalan-jalan dan jajan ala kadarnya di warung pinggir jalan.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Di salah satu warung, saya berjumpa dengan penjual yang lugu dan SELALU CERIA. Dia berjualan sendiri, tanpa teman karyawan yang lain (dia ini karyawan saja, bukan pemilik). Yang menarik, dia ini (seorang wanita) melayani sekian banyak pembeli dengan TENANG dan (seperti telah saya katakan tadi)  CERIA.

Tentu saja, pembeli yang begitu banyak harus antri. Dan, beberapa di antaranya pasti ada yang menunjukkan ketidaksabaran. Tetapi dengan tetap tenang dan sabar serta ceria, Si Mbak Penjual ini tetap melayani satu per satu. TANPA BEBAN. TANPA KALUT. DAN TETAP RAMAH.

Saya amati, bahkan pembeli yang sempat mulai bersungut-sungut pun akhirnya TERTULAR MENJADI SABAR, CERIA, DAN TERTAWA BERSAMA "menikmati"  antrian ini.
Rupanya, KECERIAAN Si Mbak Penjual ini memang MENJALAR DAN MENULAR ke semua pembelinya. Kalau ada pembeli yang cemberut / tidak sabar, akhirnya ikut jadi BISA MENIKMATI.

Lucunya lagi, Si Mbak Penjual ini juga PELUPA ! Dia sering lupa apa yang sudah dipesan oleh pembeli, sehingga pembeli seringkali harus mengatakan detail pesanan berulang kali. Toh, tetap DALAM KECERIAAN, baik pembeli maupun penjualnya.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Ketika ada seorang pembeli yang berkata dengan nada simpati, "Kasihan...harus berjualan seorang diri tanpa ada yang menemani...", maka Si Mbak Penjual berkata, "Saya ditemani Tuhan..." (dengan wajah tetap ceria).

Yang lebih mengejutkan sekaligus berkesan buat saya adalah kalimat lanjutan dari Si Mbak Penjual ini. Dia berkata, "Dulu, saya bekerja asal bekerja...tidak berdoa...tidak mengingat Tuhan...saya banyak lupa dan dimarahi banyak orang... Sekarang, saya percaya Tuhan menemani saya....saya memang masih pelupa...tapi orang-orang jadi sabar...tidak marah kepada saya..."

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Saya menuliskan pengalaman ini karena saya begitu terkesan dengan spiritualitas Si Mbak Penjual yang sederhana tetapi mengena di hati.

Pertanyaannya : apakah dalam menemani / mendampingi anak, kita juga mempunyai renungan spiritualitas semacam itu...bahwa Tuhan hadir secara nyata menemani dan membantu kita...bahkan dalam hal-hal yang sederhana ?

Selamat menemani anak.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

-----o0o-----

Foto dan tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922. Sarjana di bidang Ilmu Alam dan Ilmu Sosial. Pengelola blog www.PAIMIN3000.blogspot.com

Menemani Anak - BUKU BARU TENTANG KREATIVITAS



Foto Buku "Kreatif Sampai Mati"
Karya Wahyu Aditya

Dalam usahanya mendampingi anak-anaknya supaya KREATIF SECARA ALAMIAH, orang tua ada baiknya mencari dan mendapatkan ide-ide dari buku-buku bacaan, selain dari sumber-sumber lain seperti ngobrol dengan sesama orang tua, diskusi dengan orang-orang psikologi, dan (tentu saja) dengan membaca blog inspirasi pendidikan kreatif ini.

Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak Yth.,
Baru-baru ini saya ke Toko Buku Gramedia di Jalan Pandanaran Semarang, saya melihat dan (akhirnya) membeli buku dengan judul Kreativ Sampai Mati.

Bagi anak yang sudah SMP apalagi SMA, buku ini merupakan buku bacaan yang asyik sekaligus dapat merangsang semakin tumbuhnya kreativitas. Namun untuk anak yang masih sekolah di SD, memang perlu pendampingan orang tua ketika anak membaca buku ini. Bukan apa-apa, tetapi memang ada istilah-istilah yang agak sulit dicerna oleh anak SD apabila tidak didampingi oleh orang tuanya (ketika membaca buku ini).

Buku ini sudah terlihat kreatif sejak awalnya : pemilik buku boleh MENDISAIN SAMPUL sendiri kalau tidak suka dengan sampul buku yang sudah ada. Isi buku ini juga penuh dengan foto-foto dan gambar-gambar kreatif, beserta uraian-uraian pendukungnya. Ditambah lagi, kreativitas yang diuraikan dalam buku ini dikaitkan dengan RASA KEBANGSAAN / SEMANGAT NASIONALISME, terutama pada bagian akhir buku ini.

Selamat menemani anak.

Selamat berasyik ria membaca buku bersama anak : buku tentang kreativitas.

"Menemani Anak = Mencerdaskan Bangsa"

-----o0o-----

Foto dan tulisan oleh Constantinus Johanna Joseph. Ilmuwan Psikologi anggota Himpunan Psikologi Indonesia nomor 03-12D-0922. Sarjana di bidang Ilmu Alam dan Ilmu Sosial. Peminat kreativitas dalam bidang pendidikan dan industri / organisasi.

Menemani Anak - SHOOTING FILM TUGAS SEKOLAH



Hari Minggu tanggal 26 Mei 2013, anak saya minta diantar ke kompleks sekolahnya : membawa sekian banyak alat untuk shooting film. Bersama dengan teman-teman kelompoknya, anak saya harus menyelesaikan shooting film berbahasa Inggris itu segera, karena harus dikumpulkan pada hari Rabu tanggal 29 Mei 2013. Jadi, waktu persiapannya memang singkat saja. (Foto di atas : Agatha berkaos putih garis-garis merah, sedang berdiskusi di tenah-tengah kegiatan shooting bersama teman-teman kelompoknya).







 Karena padatnya kegiatan belajar di sekolah maupun pekerjaan rumah dari sekolah, maka Agatha (anak saya) yang mendapat bagian menulis teks / naskah skenario film baru sempat menulis skenario itu di hari Minggu pagi 26 Mei 2013. Kepada anak saya katakan untuk TETAP TENANG tetapi juga TETAP FOKUS mengerjakan skenario itu, JUSTRU KARENA WAKTUNYA SUDAH SANGAT MENDESAK.

Jadi, di hari Minggu 26 Mei 2013 pagi itu (sebelum kegiatan shooting film di kompleks sekolah sekitar pk. 10.00 WIB), anak, saya, dan istri jalan-jalan di kawasan Tugu Muda Semarang (sebagaimana terlihat pada foto-foto di atas). Setelah jalan-jalan santai di seputar Tugu Muda, Agatha duduk di tepi kolam yang ada air mancurnya (suasana terasa segar sekali) sambil mengetik naskah skenario di smartphone yang saya bawa. SUASANA YANG SEGAR di tempat ini membuat pikiran menjadi lancar untuk mengetik skenario. (Nantinya, sesampai di rumah), hasil ketikan skenario ini tinggal di-print, kemudian dibagikan dan dipelajari bersama teman-teman kelompok Agatha sebelum shooting).

Dalam keadaan terburu-buru / waktu yang mendesak, anak perlu didampingi untuk TETAP TENANG dan sekaligus TETAP FOKUS, serta dalam SUASANA YANG MENDUKUNG dapat SEGERA mengerjakan tugas-tugas yang harus diselesaikannya (dalam kasus ini : SKENARIO). Saya sendiri bersikap untuk tidak melakukan INTERVENSI apalagi MEMBUATKAN apa yang seharusnya dibuat oleh anak, karena intervensi seperti itu akan membuat anak tidak memiliki pengalaman BAGAIMANA MENYELESAIKAN TUGAS DALAM WAKTU YANG MENDESAK.

Ketika akhirnya naskah skenatio itu selesai, anak MERASA PUAS dan KEPERCAYAAN DIRINYA meningkat karena dia telah berhasil menyelesaikan tugas (yang tadinya dirasa sulit untuk diselesaikan dalam waktu singkat). Bahkan, anak juga memiliki PENGALAMAN BARU bahwa tugas-tugas seperti itu dapat diselesaikan secara KREATIF di tempat-tempat yang TIDAK UMUM (dalam hal ini : kolam yang ada air mancurnya di kawasan Tugu Muda). Jadi, anak juga punya pengalaman bahwa MENYELESAIKAN TUGAS itu juga dapat dilakukan tidak "di tempat yang itu-itu saja" (harus selalu di kamar belajar, misalnya).


Bahkan, pada saat saya menyaksikan DARI JARAK JAUH apa saja yang dilakukan oleh Agatha dan teman-temannya pada saat shooting, saya pun tetap MENAHAN DIRI untuk tidak memberikan masukan-masukan (apalagi kalau tidak diminta), karena anak PERLU MENDAPATKAN PENGALAMAN SENDIRI BAGAIMANA MENYELESAIKAN MASALAHNYA (termasuk : dalam hal bekerja bersama kelompoknya). Sebagai orang tua (yang pasti sudah lebih berpengalaman dibandingkan anak-anak kita), mungkin saja apa yang sedang dilakukan oleh anak itu TERLIHAT KURANG EFISIEN, misalnya dalam hal mengatur "blocking", "dialog", dan sebagainya (kebetulan, saya dulu adalah pemain teater di SMA Kolese Loyola Semarang). Tetapi saya memang harus tetap teguh untuk TIDAK MENGINTERVENSI anak dan teman-temannya, sehingga mereka bisa BERKARYA DAN BERKREASI DENGAN SEGALA KETERBATASANNYA, karena itu merupakan PROSES BELAJAR DARI PENGALAMAN YANG ADA.

Bagaimanapun, akhirnya tugas shooting film ini selesai juga. Tentu saja, ketika anak kemudian bertanya ini dan itu, saya akan memberikan jawaban. Tetapi memang ini sifatnya bukan MENGINTERVENSI pada saat anak dan tema